
Pascasarjana UIN Antasari Luluskan 134 Magister dan Doktor, Direktur Ingatkan Pentingnya Autentisitas Manusia di Era AI
BANJARMASIN – Pascasarjana Universitas Islam Negeri Antasari sukses menggelar Yudisium Program Magister dan Doktoral Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Kegiatan yang berlangsung penuh khidmat ini bertempat di Auditorium Mastur Jahri Kampus 1, Sabtu (24/10/2026).
Wakil Direktur Pascasarjana Dr. Wahyuddin, M.Pd.I. dalam laporannya, menyampaikan rincian jumlah mahasiswa yang mengikuti yudisium. Total terdapat 134 peserta yang terdiri dari berbagai program studi.
“Yang terdiri dari peserta S-3 berjumlah 18 orang, dan peserta dari S-2 berjumlah 116 orang,” ungkapnya.

Wadir juga mengumumkan deretan lulusan terbaik dari masing-masing prodi, dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi diraih dari Program Doktoral Ilmu Syariah.
“Dapat disimpulkan bahwa calon wisudawan terbaik adalah Rizal Arif Fitria dengan IPK 3,90,” tambahnya mengapresiasi pencapaian para mahasiswa.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pascasarjana Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M.A., memberikan orasi ilmiah yang menyoroti tiga tantangan besar perguruan tinggi saat ini: transformasi digital, perubahan iklim, dan dunia kerja.
Secara khusus, dirinya membahas kekhawatiran global mengenai kehadiran kecerdasan buatan (AI), yang dianggap dapat menggantikan peran manusia di dunia kerja.
Direktur menegaskan, bahwa meskipun mesin memiliki tingkat kesempurnaan dan kerapian yang tinggi, AI tidak akan pernah bisa menyamai autentisitas dan kedalaman emosi serta kecerdasan spiritual manusia.
Dirinya mengingatkan bahwa hakikat ilmu sejatinya berada di dalam hati, bukan sekadar hafalan atau data di dalam mesin.
“Justru pada saat ketika kita ditantang oleh AI, kita mendapatkan kesempatan untuk berpikir ulang tentang apa saja yang istimewa, khususnya yang tak tergantikan dalam diri kita sebagai manusia,” tegas Prof. Mujib.

“Kita juga mencari dan merindukan keaslian, autentisitas, asimetri, perbedaan. Standardisasi yang dilakukan oleh mesin yang lengkap, yang sempurna, membosankan,” sambungnya.
Sementara itu, Dr. Rizal Arif Fitria, S.H., M.Ag., selaku perwakilan yudisyawan, memberikan sambutan yang menggugah. Pria yang bertugas di Hulu Sungai Tengah ini menceritakan perjalanan kecintaannya pada budaya dan kearifan lokal Banjar, yang membawanya menuntut ilmu di UIN Antasari.
Dalam pidatonya, Dr. Rizal mengajak para lulusan untuk memaknai kembali tujuan pendidikan, dan meneladani semboyan pahlawan Pangeran Antasari, “Haram menyerah, waja sampai kaputing“, sebagai nyala semangat pantang menyerah dalam berjuang.
“Jangan sampai pendidikan hanya membuat kita lebih tinggi kedudukannya, tetapi tidak lebih luas kepeduliannya. Jangan sampai ilmu membuat kita lebih pandai berbicara, tetapi tidak lebih bijaksana dalam mendengarkan,” pesannya.

Di akhir pidatonya, Dr. Rizal mengingatkan, bahwa gelar adalah sesuatu yang dapat dituliskan bersamaan dengan nama.
“Sedangkan kemuliaan harus dibuktikan melalui perbuatan,” pesannya.
Para lulusan pun didorong membawa pengabdian yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat bangsa, dan umat manusia.
(Reporter/Fotografer: Jamal Ripani, M.Pd.)



