
BARITO KUALA – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, berkolaborasi dengan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia, serta Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat RI, menyelenggarakan Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan Islam atau yang disingkat Ngopi (Ngobrol Pendidikan Islam), Sabtu (24/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Yayasan Al-Hafidz, Desa Andaman 2, Kecamatan Anjir Pasar, Kabupaten Barito Kuala (Batola) ini, mengusung tema “Madrasah Tanpa Batas: Menguatkan Nilai Rahmatan lil ‘Alamin melalui Pendidikan Inklusif yang Berkeadilan”.
Seminar tersebut diikuti para guru dan tenaga kependidikan madrasah se-Batola, termasuk para guru pendamping bagi anak berkebutuhan khusus.
Anggota Komisi VIII H. Sandi Fitrian Noor, S.T., M.M. yang hadir sekaligus membuka acara secara resmi menegaskan, bahwa semangat pendidikan inklusif harus terus diperjuangkan bersama sebagai wujud nyata nilai rahmatan lil ‘alamin yang mengedepankan kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama.
“Kita ingin madrasah semakin berkualitas, sarananya semakin memadai, gurunya semakin kompeten, dan peserta didiknya mendapatkan layanan pendidikan yang lebih baik. Untuk mewujudkan ini semua, tidak dapat bergantung pada satu pihak saja, melainkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, Kemenag, lembaga pendidikan, orang tua, dan masyarakat harus berjalan bersama,” ujarnya dalam sambutan.
Sandi pun menekankan tiga poin utama dalam penguatan madrasah inklusif, yakni akses pendidikan yang harus adil bagi semua, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta perwujudan nilai rahmatan lil ‘alamin dalam tindakan nyata.
“Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang memuliakan setiap anak. Kita ingin melahirkan generasi yang kuat dalam iman, unggul dalam akhlak, dan memiliki kepedulian sosial guna memajukan madrasah, baik di Batola maupun di Kalimantan Selatan pada umumnya,” tambahnya.
Senada, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan Dr. Muhdi, M.Ag., yang hadir mewakili Rektor Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd., menyampaikan bahwa asas pendidikan inklusif sejatinya telah tertanam kuat dalam ajaran Islam sejak zaman Rasulullah saw., sebagaimana tercermin dalam turunnya Surah ‘Abasa yang menegaskan, bahwa pengajaran harus terbuka bagi siapa saja tanpa terkecuali, termasuk kalangan difabel.
“Pendidikan inklusi itu tidak sekadar slogan bahwa sekolah kita menerima difabel, tetapi yang terpenting adalah bagaimana cara pandang, sikap, dan keadilan kita dalam memberikan ruang-ruang yang baik untuk pendidikan mereka. Jangan sampai kita menandai sekolah kita sebagai sekolah inklusi, tetapi di dalamnya justru masih eksklusi,” tutur Dr. Muhdi.
Ia berharap kegiatan ini memberikan dampak nyata terhadap perubahan cara pandang, sikap, dan keterampilan para peserta seminar dalam memanusiakan peserta didik berkebutuhan khusus, baik di ruang kelas, lingkungan sekolah, maupun masyarakat. Atas nama Rektor UIN Antasari, ia juga menyampaikan apresiasi kepada H. Sandi Fitrian Noor atas keberlanjutan kerja sama dalam mentransfer pengetahuan dan keterampilan demi menjaga mutu pendidikan Islam agar senantiasa relevan dan diperhitungkan.
Sementara itu, Dekan FTK UIN Antasari Banjarmasin, Dr. H. Hamdan, M.Pd., mengingatkan bahwa setiap madrasah maupun sekolah berkewajiban menerima dan melayani anak berkebutuhan khusus dengan baik, serta mencegah segala bentuk perundungan (bullying) maupun diskriminasi.
“Setiap manusia memiliki hak untuk dihargai dan diterima apa pun kondisinya. Kita harus memahami bagaimana melayani anak-anak berkebutuhan khusus sampai mereka merasa nyaman, dihargai, tidak merasa berbeda dengan anak-anak lainnya, dan dapat bersosialisasi dengan baik bersama teman-temannya,” ungkap Dr. Hamdan.
Ia menambahkan bahwa di balik keterbatasan yang dimiliki seorang anak, selalu terdapat kelebihan dan potensi yang dianugerahkan oleh Allah Swt., sehingga para pendidik perlu membekali diri dengan teknik penanganan yang tepat agar anak berkebutuhan khusus merasa disayangi, dihargai, dan dihormati.
Di sisi lain, Ketua Pelaksana sekaligus Ketua Divisi GTK Madrasah Kepanitiaan Ngopi FTK UIN Antasari, Mahmudah, M.Pd.I., menjelaskan bahwa pemilihan tema inklusivitas bertujuan mengedukasi para pendidik di Kabupaten Barito Kuala mengenai konsep sekolah ramah untuk semua.
“Hari ini kita mengangkat tema terkait inklusivitas di sekolah, yakni sekolah untuk semua tanpa membeda-bedakan. Kami menghadirkan narasumber yang mumpuni di bidangnya agar guru-guru di Batola dapat memahami bahwa sekolah bisa menerima serta mengayomi anak yang berbeda. Semoga melalui kegiatan Ngopi ini, mutu pendidikan Islam, khususnya madrasah, terus berkembang dan semakin membaik karena pendidikan membangun peradaban,” jelas Mahmudah.
Usai sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh praktisi pendidikan inklusi sekaligus guru Sekolah Luar Biasa (SLB), Arif Rahman Heriansyah, S.Pd.I., M.A., Gr.. Dalam sesi tersebut, dibahas dua topik utama, yaitu “Madrasah Inklusif untuk Semua: Meningkatkan Keadilan Sosial Melalui Policy and Legislative Support” serta “Membangun Inclusive Culture di Madrasah: Dari Sikap Penerimaan menuju Lingkungan Ramah Keberagaman” yang ditutup dengan diskusi interaktif bersama para peserta.
Catatan Redaksional: Beberapa bagian dari transkrip rekaman suara pada dokumen pertama yang mengalami distorsi pengenalan suara otomatis (seperti penyebutan nama institusi, istilah difabel/tunanetra, rahmatan lil ‘alamin, serta Surah ‘Abasa) telah diselaraskan berdasarkan konteks kalimat dan dokumen surat undangan/rundown resmi. Apabila ada penyesuaian sudut pandang (angle) yang ingin lebih ditonjolkan—misalnya khusus untuk rilis kehumasan kampus atau media siber—silakan beri tahu saya
(Reporter/Fotografer: Rahmi Hartati, S.Sos.)



