
Ketika Keinginan Berubah Menjadi Kebutuhan: Gen Z Muslim di Tengah Algoritma Media Sosial
Oleh: Dr. Muhaimin, S.Ag., M.A.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Antasari Banjarmasin
Pernahkah kita membuka media sosial tanpa berniat membeli apa pun, tetapi beberapa menit kemudian justru tertarik pada suatu produk? Awalnya hanya melihatnya sekilas di beranda. Tidak lama kemudian, produk serupa muncul lagi. Seorang influencer menggunakannya, teman membicarakannya, ulasan positif bermunculan, lalu iklannya kembali hadir di layar kita. Barang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan perlahan terasa menarik. Dari ketertarikan muncul keinginan, dan dari keinginan kemudian timbul perasaan bahwa barang tersebut memang kita perlukan.
Fenomena sederhana ini semakin lazim dalam kehidupan masyarakat digital, terutama di kalangan Generasi Z. Media sosial tidak lagi sekadar ruang komunikasi dan hiburan. TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform digital telah menjadi ruang tempat selera, keinginan, gaya hidup, bahkan identitas konsumsi dibentuk dan ditampilkan.
Di sinilah muncul pertanyaan penting bagi kita yang mempelajari ekonomi: siapa sebenarnya yang menentukan kebutuhan kita?
Dari Want Menjadi Perceived Need
Dalam ilmu ekonomi, kita mengenal perbedaan antara needs dan wants: kebutuhan dan keinginan. Dalam kehidupan sehari-hari, keduanya tidak selalu mudah dibedakan. Terlebih ketika apa yang kita inginkan terus-menerus hadir di hadapan kita.
Seseorang membutuhkan telepon seluler untuk berkomunikasi, belajar, dan bekerja. Namun, apakah ia juga membutuhkan telepon keluaran terbaru ketika perangkat yang dimilikinya masih berfungsi dengan baik? Kita membutuhkan pakaian, tetapi apakah setiap tren pakaian baru juga menjadi kebutuhan? Pertanyaan serupa dapat diajukan terhadap sepatu, kosmetik, makanan kekinian, perangkat elektronik, hingga tempat nongkrong yang sedang viral.
Media sosial membuat batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin kabur. Sesuatu yang terus-menerus dilihat akan menjadi semakin familiar. Ketika produk yang sama muncul berulang kali, digunakan oleh orang yang kita ikuti, dibicarakan teman, dan memperoleh validasi melalui likes, komentar, serta ulasan positif, keinginan terhadap produk tersebut dapat semakin menguat.
Pada tahap tertentu, kita tidak lagi mengatakan, “Saya ingin barang itu,” tetapi mulai mengatakan, “Sepertinya saya memang perlu barang itu.”
Di sinilah want dapat bergeser menjadi perceived need: sesuatu yang semula hanya diinginkan kemudian dipersepsikan sebagai kebutuhan.
Ketika Algoritma Mulai Menggiring Pilihan Kita
Proses tersebut menjadi semakin menarik karena apa yang muncul di layar kita tidak sepenuhnya acak. Platform digital menggunakan algoritma untuk membaca pola perilaku pengguna: apa yang kita tonton, berapa lama kita berhenti pada suatu konten, apa yang kita sukai, apa yang kita cari, hingga jenis konten apa yang membuat kita kembali melihatnya.
Semakin sering kita berinteraksi dengan jenis konten tertentu, semakin banyak pula konten serupa yang disajikan kepada kita. Algoritma tidak sekadar “mengenali” kesukaan kita. Melalui rekomendasi yang berulang dan semakin personal, ia juga dapat menggiring perhatian kita kepada pilihan-pilihan tertentu.
Bayangkan seseorang yang awalnya hanya berhenti beberapa detik melihat video tentang sepatu. Setelah itu, muncul video lain tentang sepatu serupa, ulasan pengguna, rekomendasi influencer, perbandingan merek, hingga informasi diskon. Tanpa disadari, perhatian terhadap produk tersebut semakin besar. Sesuatu yang sebelumnya berada di luar pikiran kini masuk ke dalam daftar keinginan, bahkan dapat dirasakan sebagai kebutuhan.
Pengaruh tersebut menjadi semakin kuat ketika bertemu dengan faktor sosial: influencer, tren, fear of missing out (FOMO), estetika visual, ulasan konsumen, dan percakapan teman sebaya. Kita tidak hanya bertanya, “Apakah saya membutuhkan barang ini?”, tetapi juga mulai mempertimbangkan, “Apakah orang lain sudah memilikinya?”, “Apakah ini sedang tren?”, atau bahkan, “Bagaimana saya akan terlihat jika memilikinya?”
Pada titik ini, konsumsi tidak lagi semata-mata mengenai apa yang kita gunakan, tetapi juga mengenai siapa diri kita dan bagaimana kita ingin dilihat oleh orang lain.
Lalu, Di Mana Nilai Agama?
Bagi seorang Muslim, keputusan konsumsi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah kita mampu membeli sesuatu. Islam menghadirkan dimensi lain dalam menilai konsumsi: apakah sesuatu itu halal, bermanfaat, diperlukan, proporsional, dan tidak membawa kepada israf atau perilaku berlebih-lebihan.
Karena itu, tantangan konsumsi Muslim pada era digital menjadi lebih kompleks. Persoalannya bukan semata-mata bagaimana menemukan produk halal di tengah pasar. Produk yang halal sekalipun dapat dikonsumsi secara berlebihan. Barang yang boleh dibeli belum tentu harus dibeli. Demikian pula, kemampuan finansial untuk memperoleh sesuatu tidak otomatis menjadikannya sebagai kebutuhan.
Dalam konteks inilah nilai agama dapat berfungsi sebagai filter di tengah derasnya rangsangan konsumsi digital.
Sebelum menekan tombol checkout, ada baiknya seorang konsumen Muslim menyediakan jeda untuk bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini? Apa manfaatnya? Apakah keputusan ini lahir dari kebutuhan nyata atau karena saya terlalu sering melihatnya di media sosial? Apakah saya membelinya karena pertimbangan yang matang atau karena takut tertinggal dari orang lain?
Jeda sederhana semacam ini menjadi semakin penting justru ketika teknologi membuat proses konsumsi semakin cepat dan mudah.
Literasi Ekonomi di Era Algoritma
Selama ini literasi ekonomi dan keuangan sering dipahami sebagai kemampuan mengelola pendapatan, pengeluaran, tabungan, investasi, dan utang. Semua itu tentu tetap penting. Namun, masyarakat digital membutuhkan satu kemampuan tambahan yang tidak kalah penting: kemampuan menyadari bagaimana keinginan kita dibentuk.
Tidak semua keinginan lahir sepenuhnya dari dalam diri. Sebagiannya tumbuh melalui interaksi dengan lingkungan sosial, pasar, teknologi, dan algoritma yang bekerja di balik layar. Karena itu, kemampuan membedakan antara kebutuhan yang nyata dan kebutuhan yang “dirasakan” menjadi bagian penting dari literasi ekonomi masyarakat digital.
Bagi sivitas akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, fenomena ini sekaligus membuka ruang kajian yang semakin luas. Ekonomi Islam tidak cukup hanya dibicarakan dalam konteks lembaga keuangan syariah, akad, atau halal-haram transaksi. Ia juga perlu hadir dalam percakapan mengenai perilaku konsumen digital, media sosial, algoritma, gaya hidup, dan pembentukan identitas generasi muda Muslim.
Ekonomi Islam pada akhirnya berbicara tentang bagaimana manusia membuat pilihan. Pilihan tersebut bukan hanya berkaitan dengan apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi, tetapi juga tentang bagaimana manusia menempatkan kebutuhan, manfaat, kemampuan, dan nilai dalam menentukan apa yang layak dikonsumsi.
Kita tentu tidak harus meninggalkan media sosial atau menolak perkembangan teknologi. Teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan modern dan memberikan banyak manfaat. Tantangannya adalah memastikan bahwa kemudahan dan kecanggihan teknologi tidak menghilangkan kemampuan kita untuk menentukan prioritas secara sadar.
Di tengah algoritma yang semakin pandai membaca perilaku dan menggiring perhatian kita, mungkin kita justru perlu semakin pandai membaca diri sendiri.
Sebab, pertanyaan penting dalam konsumsi hari ini bukan lagi sekadar “Apakah saya mampu membelinya?”, melainkan juga:
“Apakah saya benar-benar membutuhkannya, atau saya dibuat merasa membutuhkannya?”




