Pernahkah kita membuka media sosial tanpa berniat membeli apa pun, tetapi beberapa menit kemudian justru tertarik pada suatu produk? Awalnya hanya melihatnya sekilas di beranda. Tidak lama kemudian, produk serupa muncul lagi. Seorang influencer menggunakannya, teman membicarakannya, ulasan positif bermunculan, lalu iklannya kembali hadir di layar kita. Barang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan perlahan terasa menarik. Dari ketertarikan muncul keinginan, dan dari keinginan kemudian timbul perasaan bahwa barang tersebut memang kita perlukan.
LANSKAP pendidikan tinggi global di dekade ketiga abad ini sedang mengalami pergeseran dahsyat yang tak terelakkan. Bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), tantangan ini menjadi lebih kompleks. Institusi yang selama ini memegang teguh peran sebagai penjaga tradisi dan nilai-nilai keislaman—seringkali diibaratkan sebagai menara gading di tengah masyarakat—kini berhadapan dengan tekanan luar biasa dari demokratisasi informasi, disrupsi teknologi, dan perubahan fundamental pasar tenaga kerja. Di tengah gelombang ketidakpastian (VUCA) dan akselerasi Revolusi Industri 4.0 dan memasuki Society 5.0 ini, kita harus mengakui satu kebenaran pahit: model universitas tradisional, termasuk di lingkungan PTKI, tidak lagi sepenuhnya memadai untuk menjawab tantangan zaman.


