Senin, 31 Agustus 2026. Saya menguji rancangan disertasi mahasiswa S-3 bersama beberapa orang dosen, salah satunya adalah Prof. Dr. Abdul Hafiz Anshari, MA yang akrab saya panggil “Pak Hafiz”. Setelah tanya-jawab dan diskusi dengan mahasiswa teruji sekitar dua jam, ujian pun selesai. Saya dan Pak Hafiz berbincang ringan, sambil melangkah ke luar gedung. Tiba-tiba beliau mengatakan, “Hari ini adalah hari terakhirku. Besok, 1 September 2026, aku resmi pensiun.” Saya terkejut, karena saya mengira beliau pensiun bulan Oktober nanti. Karena hari terakhir, beliau ingin mengosongkan ruangannya di gedung pasca. “Mungkin nanti bisa digunakan untuk yang lain,” katanya. Saya pun segera menghubungi salah seorang staf kami untuk membantu Pak Hafiz.
Pada 27 April hingga 4 Mei 2026, seniman Banjar, Dr. Hajriansyah, M.Ag, menggelar pameran tunggal seni rupa bertajuk “Kuda Cahaya”, bertempat di Gedung Wargasari, Taman Budaya, Kalsel. Dalam rangkaian pameran ini, diluncurkan pula sebuah buku kumpulan tulisan berjudul Kembali ke Akar Spiritual: Hubung-kait Seni dan Spiritualitas (Tahura Media, 2026). Berikut adalah salah satu tulisan yang disumbangkan oleh Mujiburrahman.
Mujiburrahman[1][2] Dalam wacana teologi Islam klasik, pernah muncul pertanyaan, apakah Alqur’an itu temporal (hadîts) atau eternal (qadîm); makhluk ciptaan Tuhan, atau kalam Tuhan yang abadi? …
Salah satu isu penting yang sering dibahas di kalangan Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia adalah “integrasi Ilmu”, yakni bagaimana mempertemukan dan memadukan ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu modern. Ilmu-ilmu keislaman seperti ilmu kalam (tauhid), hukum Islam (fiqh), tafsir, hadis, dan tasawuf, pada dasarnya adalah ilmu-ilmu yang bersifat relijius dalam arti tumbuh dan berkembang sebagai penafsiran atas sumber utama dalam agama Islam, yakni Alqur’an dan hadis. Ilmu-ilmu ini merupakan upaya manusia memahami apa kiranya yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya dalam pesan-pesan wahyu tersebut. Tumbuh-kembang ilmu-ilmu keislaman tentu tidak terlepas dari upaya akal manusia untuk menalar dan menganalisis. Dengan ungkapan lain, akal menalar wahyu untuk memahami dan mengembangkannya secara lebih rinci, dengan tujuan untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.



