
Menelusuri Jejak Keilmuan Ulama Banjar Bersama Prof. Mujiburrahman dan Tuan Guru Rasyid Ridha
BANJARMASIN – Suasana berbeda dan penuh antusiasme terlihat di Aula Gedung Pascasarjana Kampus 1, Rabu (28/10). Ratusan peserta memenuhi hampir seluruh kursi yang disediakan panitia, untuk mendengarkan pemaparan dalam acara Gerakan Cinta Buku Jilid II Tahun 2026.

Kegiatan yang digagas Unit Pelaksana Teknis Perpustakaan Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, bekerja sama dengan Pascasarjana ini, dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98.
Mengangkat tema “Pesona Ulama Banjar: Menelusuri Jejak Keilmuan, Keteladanan, dan Warisan,” acara ini menghadirkan dua tokoh penting sebagai narasumber.
Narasumber pertama adalah Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M.A., Direktur Pascasarjana sekaligus penulis buku yang didiskusikan. Sementara narasumber kedua adalah Tuan Guru H. Muhammad Rasyid Ridha, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin.
Kepala UPT Perpustakaan Dr. Moch. Isra Hajiri, M.Hum. dalam sambutannya menyampaikan, bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap rendahnya minat baca di masyarakat.
Dirinya mengutip hasil penelitian Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang pernah menyatakan, bahwa minat baca orang Indonesia berada di angka yang sangat memprihatinkan, yakni 0,001 persen.
“Oleh karena itu, dengan kegiatan ini diharapkan menunjukkan posisi perpustakaan dalam meningkatkan minat baca buku di UIN Antasari,” ungkap Dr. Isra.
Dirinya menambahkan, bahwa acara ini juga bertujuan menepis stigma negatif di masyarakat, yang kerap menganggap UIN sebagai perguruan tinggi yang tidak cocok dengan kaum tua (ulama tradisional).
“Dengan tulisan tentang Pesona Ulama Banjar dan dengan menghadirkan Tuan Guru Haji Muhammad Rasyid ini, bukti bahwa stigma itu tidaklah benar,” tegas Kepala UPT Perpustakaan.
Buku bertajuk “Pesona Ulama Banjar: Catatan Perjumpaan Personal” ini, berisi rekam jejak perjumpaan Prof. Mujib dengan ulama-ulama besar yang turut membentuk kepribadiannya.
Dalam paparannya, Prof. Mujib mengapresiasi keberlanjutan program Gerakan Cinta Buku, yang dirinya gagas sekitar tiga tahun lalu, guna merespons kecenderungan generasi muda yang semakin malas membaca dan lebih sibuk dengan gawai.
Prof. Mujib juga menyoroti tantangan dunia pendidikan tinggi di era digital, khususnya terkait keberadaan kecerdasan buatan (AI).
Terkait karya yang ditulisnya, Prof. Mujib menjelaskan, bahwa bukunya memiliki keunikan yang tidak bisa digantikan oleh mesin.
“Buku ini mungkin sulit ditiru oleh AI, karena saya menulis biografi yang autobiografis. Jadi saya menceritakan tokoh, tapi dalam hubungannya dengan saya,” jelas Prof. Mujib.
Dirinya pun menyarankan para mahasiswa untuk mulai menulis pengalaman pribadi yang unik, sebagai salah satu cara melawan dominasi AI, karena keunikan pengalaman itulah yang membuat manusia saling tertarik satu sama lain.
Di samping itu, Prof. Mujib juga menekankan pentingnya menjaga warisan intelektual ulama pendahulu, yang saat ini naskah-naskahnya turut dilestarikan di perpustakaan kampus melalui fasilitas Banjar Corner dan Melayu Corner.
Sementara itu, Tuan Guru H. Muhammad Rasyid Ridha menyambut baik inisiatif literasi ini, dan menekankan pentingnya budaya membaca serta menulis di kalangan generasi muda.
Dirinya menceritakan pengalaman pribadi dalam mengatasi sunyinya perpustakaan pondok pesantren, dengan mewajibkan santri kelas tiga aliah untuk membuat karya tulis akhir.
“Kenapa mereka menulis? Jelas karena mereka membaca,” ujar Tuan Guru.

Dirinya juga berpesan kepada para peserta yang hadir agar tidak pernah berhenti menuntut ilmu.
“Jangan sampai merasa puas dalam belajar. Teruslah belajar,” pesan Tuan Guru.
Diskusi bedah buku yang dipandu moderator Irsyadurrahman Ahmad, S.Th.I., M.Ag. ini berjalan menarik dan interaktif.
(Reporter/Fotografer: Jamal Ripani, M.Pd.)




