
Ratusan Mahasiswa UIN Antasari Ikuti Pemondokan Kampus Banjarbaru, Rektor Tekankan Pembentukan Karakter
BANJARBARU — “Apakah kalian merasa rugi pemondokan yang tadinya empat bulan sekarang menjadi tiga bulan saja?” tanya Kepala UPT Ma’had Al-Jami’ah Universitas Islam Negeri Antasari, H. Muhammad Syamsudin Noor, M.A., kepada ratusan mahasiswa yang duduk di hadapannya.
Pertanyaan itu memecah suasana di Masjid Kampus 2 Banjarbaru, Rabu (30/09/2026), mengundang senyum jujur dari para peserta. Dialog singkat ini bukan sekadar pembuka, melainkan sebuah pengingat tegas, bahwa waktu tiga bulan ke depan akan menjadi momen penentuan nasib kelulusan mereka.
Sore itu, UIN Antasari resmi menggelar Pembukaan Program Pemondokan Tahap I Asrama Putri dan Asrama Putra Kampus 2 Banjarbaru Tahun Akademik 2026/2027. 253 mahasantri/wati tercatat mengikuti program ini.
Menariknya, peserta tidak hanya diisi oleh mahasiswa baru, tetapi juga puluhan mahasiswa angkatan lama, mulai dari angkatan 2025 hingga angkatan 2020, yang mengulang karena belum lulus pada periode sebelumnya.
Dalam laporannya, Kepala Ma’had mengingatkan para mahasiswa, khususnya angkatan lama, untuk serius dan tidak banyak mencari alasan. Program ini merupakan salah satu syarat wajib kelulusan di kampus tersebut.
“Tolong serius. Kadang-kadang kami mendengar kata-kata apakah (program) ini menghambat kami hendak selesai cepat? Yang memperlambat bukan kami, tapi kalian sendiri,” tegas H. Syamsudin.

Selain urusan akademik, dirinya juga memberikan pesan-pesan praktis kepada mahasiswa yang akan menetap di asrama. Kepala Ma’had meminta para peserta untuk menjaga kesehatan, tidak banyak begadang, dan berhati-hati menjaga harta benda masing-masing, agar terhindar dari kasus pencurian di dalam asrama.
“Ilmu lebih baik daripada harta, karena ilmu akan menjagamu, tetapi harta, kamulah yang menjaganya,” pesannya filosofis.
Sementara itu, Rektor Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd., yang hadir untuk memberikan arahan sekaligus membuka acara secara resmi, menekankan bahwa asrama bukanlah sekadar tempat tinggal.
Program ini merupakan kawah candradimuka untuk membentuk karakter mahasiswa agar sejalan dengan visi misi universitas, yakni unggul dalam keilmuan, berakhlak dalam kepribadian, dan berdampak bagi kemanusiaan dan lingkungan.
“Kita ingin bagaimana mengintegrasikan antara ilmu, amal, dan juga hal-hal yang bermanfaat. Berarti kompetensi spiritualnya baik, sosialnya juga baik,” ungkap Rektor.
Dirinya juga menegaskan, bahwa sistem penilaian pada semester ini akan jauh lebih ketat. Jika pada semester-semester sebelumnya masih ada toleransi kelulusan, kali ini tidak ada lagi kompromi.
“Semester ini hanya ada lulus dan tidak lulus, jadi tidak ada yang lulus dengan bersyarat. Maka ikutilah kegiatan ini dengan serius dan ikhlas,” pesannya.
Lebih lanjut, Prof. Nida mengingatkan mahasiswa agar menghindari hal-hal yang dapat merusak masa depan, seperti kecanduan bermain gim hingga terjerat pinjaman online (pinjol).
Di akhir arahannya, Rektor menitipkan pesan penting terkait kepedulian lingkungan selama di asrama, terutama di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan. Dirinya meminta mahasantri untuk berhemat air dan memastikan listrik dimatikan saat meninggalkan ruangan.
Acara kemudian ditutup dengan harapan agar seluruh peserta dapat bertahan dan lulus bersama-sama pada tiga bulan mendatang.
“Selamat datang di asrama Ma’had Al-Jami’ah. Jalanilah dengan sabar dan ikhlas,” pungkas Prof. Nida.
(Reporter/Fotografer: Neco Erlin Pradana, S.Pd., M.H.)




