
Khidmatnya Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di UIN Antasari: Momentum Refleksi dan Pererat Persatuan Bangsa
BANJARMASIN — Suasana khidmat menyelimuti Halaman Gedung Pusat Sumber Belajar Kampus 1 Universitas Islam Negeri Antasari pada Kamis (1/10/2026). Barisan peserta upacara yang mengenakan seragam Batik KORPRI tampak berdiri rapi dan tertib.
Hening sejenak tercipta saat seluruh peserta menundukkan kepala, menggemakan doa bagi para pahlawan bangsa yang telah gugur mendahului. Pagi itu, seluruh jajaran pegawai berkumpul untuk melaksanakan Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
Upacara ini dimulai tepat pada pukul 07.30 Wita. Bertindak sebagai Pembina Upacara pada momen peringatan ini adalah Rektor Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd.
Adapun para petugas upacara secara khusus dipercayakan kepada para pegawai di lingkungan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Rangkaian acara berjalan dengan lancar, dimulai dari masuknya pemimpin upacara, penghormatan, hingga pembacaan teks Pancasila oleh Pembina yang diikuti dengan lantang oleh seluruh peserta.
Momen sarat makna juga terasa saat pembacaan naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan pembacaan doa. Dalam lantunan doanya, dipanjatkan permohonan agar bangsa Indonesia senantiasa dijauhkan dari iri, dengki, amarah, dan niat saling mencabik yang dapat merusak negeri, serta memohon agar Allah Swt. senantiasa menciptakan harmoni dalam keberagaman bangsa.
Bagi para pegawai, peringatan 1 Oktober ini bukan sekadar rutinitas seremoni belaka. Muhammad Fuad Syauqi, M.Kom., selaku Pemimpin Upacara menegaskan, bahwa sejarah masa lalu harus menjadi pelajaran berharga.
“Karena ini sifatnya ada sejarah sebelumnya, maka mudah-mudahnya menjadi sebuah contoh teladan di sekarang dan masa depan agar ini tidak terulang lagi kejadian yang menghadirkan peristiwa tersebut (G30S/PKI, red),” ujarnya.
Fuad juga menambahkan harapannya, agar momen ini mampu menguatkan tekad dan motivasi ke depan untuk terus membangun bangsa dan negara.
Rasa syukur senada juga diungkapkan oleh Atailah, S.Sos.I., salah satu Tenaga Kependidikan UIN Antasari yang telah mengabdi sejak 2004.
“Yang jelas kita bersyukur. Terutama kita bisa menikmati, merasakan, dan dipanjangkan umur sampai saat ini untuk bisa mengabdi kepada bangsa,” tuturnya memaknai peringatan tersebut.
Sementara itu, relevansi ‘kesaktian’ Pancasila di era saat ini turut ditanggapi oleh perwakilan generasi muda. Krisologus Genesa Ruby Atmadja, M.Si., yang bertugas sebagai Pembaca Naskah UUD 1945, memaknai Hari Kesaktian Pancasila sebagai bukti ketangguhan bangsa dalam menghadapi berbagai krisis.
“Ini menandakan bahwa sejarah kita tidak semuanya cerah betul. Tapi itu juga menandakan bahwa semua masalah atau hal-hal terkait intervensi dari luar ataupun dari dalam, harusnya kita bisa lalui bersama,” ungkap pria yang sudah satu tahun menyandang status sebagai ASN tersebut.
Lebih lanjut, Krisologus meyakini bahwa kesaktian Pancasila masih tetap nyata dan relevan hingga saat ini, terutama saat negara menghadapi berbagai persoalan dan bencana, seperti masalah kebakaran hutan dan lahan maupun kabut asap.
“Saya pikir kesaktian Pancasila tetap ada. Khususnya dalam mempersatukan bangsa, mempersatukan negara,” pungkasnya.
Reporter: Jamal Ripani, M.Pd.
Fotografer: Jamal Ripani, M.Pd. dan Haitami, S.Sos.I., M.M.



