
Perkuat Layanan Kampus Ramah Disabilitas, UIN Antasari Gelar Bimtek Inklusi Pelayanan Publik dan Praktik Bahasa Isyarat
BANJARMASIN – Jari-jemari para peserta tampak antusias bergerak mengikuti arahan instruktur di Aula Zafry Zamzam, Lantai 3 Gedung Rektorat Kampus 1 Universitas Islam Negeri Antasari, Rabu (28/10/2026).
Mulai dari mengepalkan tangan dengan ibu jari tegak di samping untuk membentuk huruf A, merapatkan keempat jari lurus ke atas dengan ibu jari ditekuk di telapak tangan untuk huruf B, hingga melengkungkan jari menyerupai huruf C, para perwakilan unit kerja dengan saksama mempraktikkan gerakan abjad jari dari A sampai Z.
Suasana pelatihan berlangsung seru saat para peserta juga diajak memperagakan kosakata isyarat yang sering digunakan dalam pelayanan sehari-hari, seperti ucapan “Assalamualaikum”, “Selamat datang di Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin”, “Ada yang bisa dibantu?”, hingga “Mohon tunggu sebentar, silakan duduk”.
Praktik komunikasi non-lisan tersebut merupakan bagian dari kegiatan Bimbingan Teknis Inklusi Pelayanan Publik yang diselenggarakan Bagian Umum, di bawah pimpinan Dr. Munisah, M.H.I.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Guru Sekolah Luar Biasa Negeri 2 Martapura sekaligus Juru Bahasa Isyarat (JBI) Adelia Ananda Putri, S.Pd. Kemudian ada instruktur bahasa isyarat berkebutuhan khusus yang juga Koordinator Pusat Bahasa Isyarat Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Ahmad Sabirin, S.Pd.
Rektor Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd. saat membuka acara menegaskan, bahwa kegiatan ini merupakan komitmen nyata untuk mewujudkan UIN Antasari sebagai kampus inklusif yang melayani siapa saja tanpa diskriminasi.
Dirinya menyampaikan bahwa setelah pihak kampus melakukan studi banding ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun lalu, dan melengkapi berbagai fasilitas ramah difabel, kini penguatan difokuskan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia pemberi layanan dari jajaran pimpinan hingga pelaksana.
“Kalau sarana dan prasarana sudah ada untuk mereka yang memiliki kendala penglihatan maupun fisik, maka sekarang SDM kita yang hari ini mendapatkan pencerahan bagaimana memberikan layanan terbaik yang ramah disabilitas, serta memberikan informasi layanan yang transparan dan mudah dipahami,” ujar Rektor.

Lebih lanjut, Prof. Nida mengingatkan, bahwa modal dasar pelayanan prima adalah membudayakan senyum, salam, dan sapa kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan, yang didasari semangat kegigihan untuk terus belajar, serta empati yang tinggi.
Hal tersebut selaras dengan visi UIN Antasari, yakni “Unggul dalam Keilmuan, Berakhlak dalam Kepribadian, dan Berdampak bagi Kemanusiaan dan Lingkungan”.
“Berikanlah budaya layanan yang berkelanjutan, jangan sampai hari ini kita seperti diisi daya, tetapi berikutnya loyo. Ilmu dan praktik-praktik baik yang didapatkan hari ini harus disebarkan kepada rekan-rekan lainnya, serta diadaptasi di seluruh unit kerja, baik di rektorat, fakultas, maupun unit pelaksana teknis, karena ini adalah tugas pokok dan fungsi yang wajib kita bersama lakukan, untuk menghadirkan kampus yang adil, ramah, dan memuliakan setiap manusia,” pesan Rektor.

Sebelumnya, Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, Kepegawaian, dan Keuangan Dr. H. Zainal Ilmi, S.Ag., M.Pd.I. dalam laporannya menjelaskan, bahwa bimtek ini sangat krusial, mengingat UIN Antasari telah menjadi kampus inklusi dan tengah melangkah dari predikat Wilayah Bebas dari Korupsi, menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).
“Para pemberi layanan kita, mulai dari sekuriti hingga bagian pelayanan administrasi lainnya, perlu memahami pelayanan inklusi dan bahasa isyarat yang benar. Salah satu kunci pelayanan prima menuju WBBM adalah memahami siapa yang datang dan apa keperluannya, karena jika kita tidak paham, hal itu akan menurunkan kuliatas pelayanan kita,” jelas Karo.

Memasuki sesi pemaparan materi bertajuk “Mengenal Ragam Disabilitas dan Aksesibilitas”, Adelia menerangkan, bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 menjadi regulasi utama yang menjamin hak, pelindungan, aksesibilitas, akomodasi yang layak, serta kesamaan kesempatan bagi penyandang disabilitas.
Dirinya menguraikan lima ragam disabilitas yang meliputi disabilitas fisik, intelektual, mental, sensorik, serta disabilitas ganda, lengkap dengan bentuk dukungan dan aksesibilitasnya masing-masing.
“Ketika berinteraksi dengan penyandang disabilitas, berkomunikasilah secara langsung seperti kepada orang lain, tetapi usahakan menggunakan kalimat singkat dan sederhana. Jika memberikan instruksi, berikan instruksi satu tahap dan beri waktu untuk merespons,” terang Adelia.

Dirinya menambahkan, bahwa khusus saat berinteraksi dengan penyandang tunanetra, pemberi layanan perlu menggunakan komunikasi verbal yang jelas dan spesifik, menyebutkan nama ketika mengajak berbicara, serta menjelaskan posisi atau arah secara verbal.
Sementara itu, pada sesi pengenalan budaya Tuli dan praktik bahasa isyarat, Sabirin menjelaskan perbedaan antara istilah Tunarungu yang merupakan istilah medis terkait kerusakan pendengaran, dengan istilah Tuli yang merupakan identitas sosial bagi komunitas yang memiliki bahasa dan budaya tersendiri.
Dirinya juga memaparkan sejumlah etika berinteraksi dengan Teman Tuli, seperti melambaikan tangan atau menepuk bahu untuk menarik perhatian sebelum berkomunikasi, berbicara dengan gerak bibir yang jelas tanpa menutup mulut atau berteriak, serta tetap menatap langsung lawan bicara Tuli meskipun menggunakan bantuan penerjemah demi menjaga kesopanan.
Selain memandu praktik abjad dan percakapan pelayanan publik, mahasiswa Pendidikan Khusus Universitas Lambung Mangkurat, sekaligus anggota advokasi Tuli Dewan Pengurus Daerah Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia Kalsel ini, turut memperkenalkan isyaratbanua.tech, sebuah platform edukasi dan kamus interaktif bahasa isyarat lokal Kalsel, untuk menjembatani komunikasi antara Teman Dengar dan Teman Tuli.
“Aksesibilitas ditujukan kepada pengguna layanan, bukan hanya kepada pegawai. Ini bukan soal kasihan kepada penyandang disabilitas, tetapi menghargai, memahami, mendukung, dan memberikan kesempatan yang setara, sehingga empati tidak berhenti pada rasa iba, melainkan berkembang menjadi kesadaran, penerimaan, tindakan nyata, dan pemberdayaan,” pungkasnya menggunakan bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh Adelia.
(Fotografer: Haitami, S.Sos.I., M.M.)









