
Kolaborasi UIN Antasari, Kemenag, dan Komisi VIII DPR RI: Perkuat Moderasi Beragama dan Literasi Digital Mahasiswa di Era AI
BANJARBARU – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, melalui Divisi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, bekerja sama dengan Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Kementerian Agama RI, menggelar Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan Islam, Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan bertajuk Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) yang berlangsung di Aula Jeddah Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin ini, mengusung tema “Moderasi Beragama dan Literasi Digital dalam Mencegah Intoleransi serta Radikalisme di Ruang Siber”.
Acara tersebut dibuka secara resmi Anggota Komisi VIII H. Sandi Fitrian Noor, S.T., M.M. Dalam sambutannya, Sandi mengapresiasi sinergi berkelanjutan antara Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Komisi VIII, dan UIN Antasari dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia di Kalimantan Selatan.
Sandi menilai masyarakat Kalsel selama ini dikenal religius, santun, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan. Namun, di tengah pesatnya transformasi digital, ruang siber telah menjadi media penyebaran informasi yang sangat masif dengan arus yang bergerak cepat.
“Hoaks, provokasi, propaganda intoleransi, kini dikemas dengan sangat menarik untuk menyasar generasi muda dan para pengguna media sosial. Jika generasi muda tidak dibekali literasi digital dan pemahaman agama yang inklusif, perbedaan pendapat kecil di dunia maya bisa menjadi pemantik gesekan sosial di dunia nyata,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Sandi menekankan pentingnya penguatan dua pilar utama bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman.
“Yaitu moderasi beragama sebagai benteng ideologis, dan literasi digital sebagai benteng teknologi. Kami berharap seluruh mitra kerja terkait berkomitmen memperkuat program-program pendidikan Islam, mulai dari pesantren, madrasah, hingga pendidikan agama di sekolah umum dan perguruan tinggi, agar adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan akar nilai-nilai spiritualitasnya,” tegasnya.
Ruang Siber sebagai Ruang Kelas Kedua
Senada, Rektor Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd., yang diwakili Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian Dr. H. Zainal Ilmi, S.Ag., M.Pd.I. menyebut, bahwa dunia maya saat ini telah menjadi “ruang kelas kedua” bagi mahasiswa.
Menurutnya, ruang digital tidak hanya menawarkan kemudahan akselerasi belajar melalui kecerdasan buatan (AI), tetapi juga menyimpan risiko paparan konten ekstrem dan hoaks.
“Kalau kita berbicara tentang mutu pendidikan Islam saat ini, tidak cukup hanya mengandalkan kurikulum dan sarana kampus yang bagus, tetapi juga kemampuan mahasiswa untuk menerapkan BKM, yakni Bijak, Kritis, dan Moderat, baik di dunia maya maupun di dunia nyata,” tutur Karo sembari menyampaikan apresiasi kepada H. Sandi Fitrian Noor, yang terus memperjuangkan aspirasi pendidikan Islam bagi masyarakat Kalsel di tingkat pusat.

Sementara itu, Dekan Dr. H. Hamdan, M.Pd. mengungkapkan rasa syukurnya, karena UIN Antasari menjadi satu dari delapan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) di Indonesia—sekaligus satu-satunya di Pulau Kalimantan—yang dipercaya menyelenggarakan program kolaborasi ini. Dirinya mengingatkan para mahasiswa agar tampil sebagai agen perubahan yang membawa wajah Islam rahmatan lil ‘alamin.
“Kita tidak bisa memisahkan diri dari perkembangan teknologi informasi. Apa pun yang diunggah ke media sosial dapat dibaca oleh semua orang. Jika yang dibagikan adalah hal positif, dampaknya akan baik. Sebaliknya, konten negatif yang memicu perpecahan dapat menjerumuskan pengguna pada pelanggaran hukum di dunia maya. Karena itu, mahasiswa harus bijak bermedia sosial dan membawa wajah Islam yang harmonis serta menyejukkan,” pesan Dekan.

Memahami Cara Kerja Algoritma dan Tiga Bekal Digital
Memasuki sesi inti yang dipandu oleh moderator Irma Rahmawati, M.Pd., hadir sebagai narasumber adalah pakar pendidikan, M. Irfan Islamy, S.Pd.I., M.Pd., yang memaparkan materi berjudul “Kita, Mereka, dan Ruang Digital: Memahami Intoleransi dan Radikalisasi di Era Algoritma dan AI”.
Irfan menjelaskan, bahwa fenomena intoleransi dan radikalisasi di ruang digital tidak berlangsung secara linear dan tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Menurutnya, ruang digital bukanlah penyebab tunggal, melainkan arena yang memfasilitasi ekspresi, sirkulasi informasi, visibilitas, pembentukan jaringan, dan pertukaran narasi.
Dirinya menyoroti bagaimana sistem rekomendasi dan algoritma platform digital bekerja memperkuat perhatian pengguna pada konten yang bersifat Prestigious, Ingroup, Moral, dan Emotional (PRIME), serta berisiko menciptakan echo chamber (ruang gema informasi yang seragam) hingga rage bait (konten pemancing kemarahan demi engagement).
Selain itu, Irfan mengingatkan mahasiswa agar tetap kritis saat memanfaatkan AI maupun media sosial dalam mempelajari agama.
“Algoritma tidak punya sanad, tetapi tahu konten apa yang membuat kita berhenti scrolling. Di sisi lain, akurasi prediksi AI juga tidak otomatis sama dengan kepakaran epistemik yang sesungguhnya, sehingga tetap membutuhkan penalaran kritis manusia untuk memeriksa sumber dan konteks,” jelasnya.
“Tidak cukup hanya bisa menggunakan teknologi; kita juga perlu bijak dalam menyikapi perbedaan dan bertanggung jawab sebagai warga digital,” sambung Irfan.

Antusiasme Ratusan Peserta Lintas Kampus
Ketua Panitia Pelaksana Dra. Raihanatul Janah, M.Pd. menyebutkan, bahwa kegiatan ini diikuti secara antusias oleh sekitar 470 peserta terdaftar. Para peserta terdiri atas dosen, praktisi, dan pemerhati pendidikan, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Selatan.
“Kegiatan ini merupakan titik ketiga dan keempat dari total lima rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Divisi PTKI. Harapan kami, kolaborasi antara Komisi VIII, Kemenag RI, dan PTKIN ini terus berlanjut, guna meningkatkan mutu pendidikan Islam, khususnya bagi para dosen dan mahasiswa,” ungkapnya kepada Humas.

Manfaat kegiatan ini turut dirasakan langsung oleh para peserta yang hadir, baik dari Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, dan sekitarnya. Mawaddaturrahmah, mengaku bersyukur dapat mengikuti seminar tersebut.
“Alhamdulillah, melalui seminar hari ini kami belajar banyak tentang pentingnya moderasi beragama dan literasi digital. Kegiatan ini menyadarkan kami sebagai mahasiswa untuk bijak menggunakan media digital serta menghargai perbedaan pendapat dan keyakinan di masyarakat luas. Terima kasih kepada Komisi VIII DPR RI yang telah berkolaborasi dengan UIN Antasari,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan Muhammad Saman Mulia. Ia berharap rangkaian seminar peningkatan mutu pendidikan Islam tersebut dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Karena sangat bermanfaat dalam menambah wawasan keilmuan maupun mutu pendidikan Islam bagi para peserta,” pungkasnya.
(Fur/Faj)








