
Hadirkan Pakar Australia dan Brunei di ACIEB 2026, FEBI UIN Antasari Bedah Strategi Transformasi Digital di Tengah Ketidakpastian Global
BANJARMASIN – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Antasari, menyelenggarakan konferensi internasional The 3rd Antasari Conference on Islamic Economics and Business (ACIEB) 2026, dengan mengusung tema “Digital Transformation in an Era of Global Uncertainty“, Rabu (14/10).
Kegiatan yang berlangsung secara hibrida menggunakan bahasa Inggris ini, dipusatkan di Aula Zafry Zamzam Lantai 3 Gedung Rektorat Kampus 1 bagi peserta dosen, Ruang Kuliah FEBI Lantai 3 bagi mahasiswa, serta disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube.
Konferensi internasional ini menghadirkan dua pembicara utama lintas negara, yakni Assoc. Prof. Dr. Donella Caspersz, SFHEA dari University of Western Australia (UWA) Business School, yang memaparkan materi secara daring dari Perth, Australia.
Pemateri berikutnya adalah Assoc. Prof. Dr. Muhammad Roil Bilad, Ph.D., dari Faculty of Integrated Technologies Universiti Brunei Darussalam yang hadir secara langsung (luring) di Kalimantan Selatan.
Rektor UIN Antasari Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd. saat membuka acara secara daring menegaskan, bahwa transformasi digital bukan sekadar mengadopsi teknologi mutakhir atau memindahkan aktivitas ke platform digital. Menurutnya, era digital menuntut perubahan pola pikir yang mendasar di lingkungan perguruan tinggi.
“Menuntut kita untuk memikirkan kembali cara kita bekerja, cara kita belajar, serta bagaimana kita melakukan riset dan menciptakan nilai,” ujar Rektor dalam sambutannya.

Lebih lanjut Prof. Nida menyampaikan, bahwa UIN Antasari bersama perguruan tinggi di seluruh dunia, memiliki peran strategis sebagai pusat penelitian untuk mengkritisi berbagai persoalan kontemporer.
“Kita memiliki tanggung jawab bersama untuk mempersiapkan generasi masa depan agar mampu menavigasi ketidakpastian global, serta bagaimana kita dapat berkontribusi secara positif terhadap perubahan dunia,” ajaknya.
Ketahanan Bisnis Keluarga dan Peluang Ekonomi Indonesia
Memasuki sesi utama pertama yang dimoderatori oleh Novita Alfinuri, BSc., M.A., Assoc. Prof. Donella membagi pemaparannya ke dalam dua sesi khusus, yakni pengenalan bisnis keluarga bagi mahasiswa sarjana, serta tren riset bisnis keluarga dan persiapan studi doktoral di Australia bagi jajaran dosen.
Dalam paparannya, Assoc. Prof. Donella menjelaskan, bahwa bisnis keluarga merupakan perpaduan dua sistem sosial—sistem keluarga dan sistem bisnis—yang menjadi penggerak utama perekonomian dunia, dengan kontribusi mencapai 70% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global, dan menyerap 60% total tenaga kerja dunia.
Di Indonesia, bisnis keluarga memimpin di kawasan Asia Tenggara dengan kontribusi sebesar 10% terhadap PDB nasional (senilai 139 miliar dolar AS pada data 2023), dan menempati peringkat ke-14 secara global.
“Jika Anda melihat ke sekeliling kota dan negara Anda, sebagian besar bisnis sejatinya adalah bisnis keluarga, mulai dari pedagang mikro di jalanan hingga perusahaan konglomerasi besar. Di tengah ketegangan geopolitik dan perubahan lingkungan eksternal yang penuh tantangan, perpaduan sistem keluarga dan sistem bisnis memberikan kekuatan internal serta ketahanan unik yang tidak dimiliki oleh bisnis non-keluarga,” jelas Assoc. Prof. Donella.

Dirinya menyoroti bahwa pandemi Covid-19 menjadi titik balik bagi bisnis keluarga untuk mengadopsi kapabilitas digital dan berinovasi, sehingga tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga bertumbuh.
Kekuatan tersebut ditopang oleh model bisnis relasional yang bertumpu pada ikatan sosial di masyarakat, serta budaya kolektif yang kuat di Indonesia.
“Dalam masa krisis, para CEO bisnis keluarga bertumpu pada sumber daya yang ada di tangan berupa pendidikan, yang terjangkau berupa kapabilitas e-business, serta yang dekat dengan jiwa yakni keluarga dan para pemangku kepentingan,” kutip Assoc. Prof. Donella merujuk pada riset terbarunya.
Mengingat Indonesia diproyeksikan menjadi negara dengan pertumbuhan PDB riil tercepat kedua di kelompok G20 pada tahun 2026 sebesar 5,0% setelah India (6,4%), dirinya menilai riset mengenai keberlanjutan bisnis keluarga di Indonesia sangat krusial.
Pasalnya, secara global hanya 30% bisnis keluarga yang berhasil melewati transisi ke generasi kedua dan 10% ke generasi ketiga, serupa dengan pola di Indonesia yang mencatat angka 30% di generasi kedua dan 13% di generasi ketiga.
Oleh karena itu, tata kelola yang memperhatikan kekayaan sosioemosional serta keterlibatan tenaga profesional non-keluarga, menjadi faktor penting yang patut diteliti oleh para akademisi, termasuk melalui peluang studi Ph.D. selama 3,5 tahun di UWA.

Evolusi Pembelajaran di Era Kecerdasan Buatan (AI)
Pada sesi kedua yang dimoderatori oleh Fithriani, S.Th.I., M.Pd., Assoc. Prof. Roil membedah topik “The Evolution of Learning in the Age of AI: From Asking Questions to Building Capable Partners”.
Dirinya memaparkan, bahwa kehadiran AI telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan ilmu pengetahuan: dari sekadar mencari informasi melalui buku dan situs web, kini bertransformasi menjadi ruang dialog serta pendelegasian tugas terukur melalui agen cerdas.
“Selama berabad-abad, proses belajar bergantung pada akses terhadap orang, buku, dan institusi. AI mengubah antarmuka tersebut; kini kita dapat bertanya, menguji, membandingkan, dan berlatih dengan pengetahuan sesuai kebutuhan. Namun perlu diingat, akses informasi tidak sama dengan pemahaman. AI dapat memperluas akses, tetapi belajar tetap memerlukan penafsiran, penilaian, dan penerapan,” papar Assoc. Prof. Roil.
Dirinya merinci lima tahapan belajar dengan AI yang meliputi Membaca (dokumen), Mengingat (pustaka pribadi), Membandingkan (beragam sumber), Mengajar (dukungan belajar), hingga Bertindak (workflow).
Dalam konteks akademik dan riset, pemanfaatan prompting kini telah berevolusi dari instruksi sekali pakai, menuju pemanfaatan Retrieval-Augmented Generation (RAG), Custom Assistant, AI Skills, hingga AI Agent.
Melalui teknologi RAG dan platform multimodal seperti NotebookLM, akademisi dapat menelusuri literatur spesifik secara terukur—seperti inovasi asisten pustaka Digital Al-Ghazali—serta mengolah materi lintas format mulai dari teks, gambar, audio, hingga video.
Kendati AI mampu mempercepat dan menekan biaya penulisan draf maupun persiapan bahan ajar, Assoc. Prof. Roil mengingatkan, bahwa peran serta penilaian manusia tidak tergantikan.
“Membuat draf tulisan mungkin semakin mudah, cepat, dan murah. Akan tetapi, kemampuan bernilai dari manusia justru bergeser ke tahap sebelum dan sesudah draf dibuat. Sebelum menyusun draf, manusia harus menetapkan pertanyaan, bukti, dan tujuan; sedangkan sesudahnya, manusia wajib melakukan verifikasi, penilaian, dan memegang tanggung jawab penuh atas kebenaran klaimnya,” tegasnya.
Sebagai penutup, Assoc. Prof. Roil merangkum lima prinsip utama keterampilan belajar bersama AI yang harus dipegang teguh oleh civitas academica, yaitu Tanyakan (tentukan pertanyaan sesungguhnya), Dasarkan (gunakan sumber tepercaya), Periksa (uji jawabannya), Arahkan (pandu alur kerja), dan Tanggung Jawab.
“Gunakan AI untuk memperluas kemampuan manusia, dan pertahankan penilaian manusia,” pungkasnya.
Setelah sesi utama berakhir pada siang hari, rangkaian The 3rd ACIEBdilanjutkan dengan sesi paralel secara daring, menghadirkan narasumber Dr. Rahma Yuliani, S.E., M.Si., Ak.; Assoc. Prof. Dr. Muhammad Roil Bilad, Ph.D.; dan Dr. H. Zaki Mubarak, M.Si., M.Fin., dengan dipandu oleh moderator Sri Hidayati, S.M., M.M.
(Reporter/Fotografer: Neco Erlin Pradana, S.Pd., M.H.)




