
Dari Tukang “Scroll” Jadi Sarjana Andal, Mahasiswa UIN Antasari Bekali Diri Etika Riset di Era AI
BANJARMASIN — Di era digital saat ini, pemandangan mahasiswa Generasi Z yang asyik menggulir (scroll) layar ponsel berjam-jam untuk menikmati konten visual berdurasi pendek, sudah menjadi hal lumrah. Dari TikTok hingga Instagram, informasi mengalir deras dalam hitungan detik.
Namun, realita seringkali menghantam keras saat mereka harus berhadapan dengan layar laptop kosong untuk menyusun skripsi. Rasa malas, kebingungan merangkai paragraf pertama, hingga besarnya godaan untuk menyerahkan seluruh beban penulisan pada kecerdasan buatan (AI) secara instan, kerap menjadi jalan pintas yang berbahaya.
Fenomena dilematis inilah yang direspons secara proaktif melalui kegiatan “Workshop Penulisan Karya Ilmiah”, oleh Pusat Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Islam (PUSJIBANG-PI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin.
Bertempat di Aula FTK Kampus 1 pada Senin (28/9/2026), kegiatan ini mengajak mahasiswa bertransformasi dari sekadar penikmat konten pasif menjadi akademisi yang tangguh, produktif, dan kolaboratif.
Dekan Dr. H. Hamdan, M.Pd. saat membuka acara menegaskan, bahwa kemampuan meneliti adalah urat nadi Tridarma Perguruan Tinggi.
“Sangat aneh kalau mahasiswa tidak mengerti tentang karya tulis ilmiah atau penelitian, apalagi saat menggarap skripsi yang merupakan karya tulis pertama di jenjang akademik,” tegasnya di hadapan para mahasiswa senior yang tengah mempersiapkan tugas akhir.

Dekan juga memberikan peringatan penting terkait melesatnya teknologi AI saat ini.
“Mudah-mudahan Anda bisa memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk mengembangkan pola pikir kita. Tapi jangan seratus persen tergantung dari alat bantu saja. Jangan sampai nanti Anda tertipu, terkadang AI ada biasnya, sehingga perlu literasi teknologi informasi,” pesannya.
Sebelumnya, Ketua PUSJIBANG-PI Drs. H. Muhammad Yusuf, M.Fil.I. menyampaikan, bahwa pelatihan ini dirancang untuk membekali mahasiswa lebih dari sekadar urusan kelulusan.
“Kemampuan melakukan penelitian tidak hanya untuk menyelesaikan tugas akhir, tetapi juga sebagai bekal untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, sistematis, objektif, dan mampu memecahkan berbagai permasalahan secara ilmiah di masyarakat,” ungkapnya saat memberikan laporan.

Untuk membedah seluk-beluk kepenulisan yang berintegritas, lokakarya ini menghadirkan dua pakar yang mumpuni. Pemateri pertama, Dr. Mutiani, M.Pd., akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat, secara komprehensif membedah strategi menulis artikel berkualitas dan berdaya saing, termasuk struktur IMRAD (Introduction, Methods, Results, Analysis & Discussion). Dirinya memberikan pedoman batasan etis yang sangat tegas terkait penggunaan AI dalam riset.
“AI sebaiknya digunakan sebagai asisten, misalnya merapikan tata bahasa, membantu brainstorming ide, atau meringkas literatur. Ingat, AI sama sekali tidak boleh digunakan untuk menulis substansi naskah, apalagi sampai membuat data atau temuan penelitian palsu,” papar Dr. Mutiani mengingatkan batasan etika akademik.

Realita tantangan Generasi Z kemudian diperdalam oleh pemateri kedua dari UIN Antasari, Dr. Moh. Iqbal Assyauqi, M.Pd. Dirinya membedah paradoks mahasiswa masa kini yang berstatus warga digital (digital native) dan pandai mengerjakan banyak tugas dalam satu waktu, namun kerap memiliki kelemahan dalam kemampuan berpikir kritis saat menyaring kebenaran informasi.
Dr. Iqbal mewanti-wanti peserta mengenai sisi gelap teknologi, yang dapat menjebak mahasiswa dalam bentuk plagiarisme berbasis AI.
“Terlalu mengandalkan AI akan melemahkan kemampuan analitis dan berpikir mandiri—keterampilan yang justru paling dibutuhkan dalam sains. Gunakan AI sebagai asisten, bukan pengganti pikiranmu,” pungkasnya.
(Fur/Faj)













