
Kolaborasi Strategis UIN Antasari, Kemenag, dan DPR RI Gelar Seminar Penguatan Karakter di Madrasah
BANJARBARU – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, bekerja sama dengan Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, dan Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat RI, sukses menggelar Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan Islam.
Mengusung tema “Penguatan Pendidikan Karakter Peserta Didik di Madrasah,” acara ini berlangsung di Banjarbaru, Kamis (5/11/2026).
Seminar strategis ini diikuti ratusan peserta yang terdiri dari kepala madrasah, wakil kepala madrasah, dan guru jenjang raudatul atfal, madrasah ibtidaiah, madrasah tsanawiah, dan madrasah aliah, baik negeri maupun swasta.
Kegiatan ini bertujuan menguatkan kembali esensi pendidikan Islam, di tengah derasnya arus disrupsi informasi dan tantangan era digital.
Dekan FTK Dr. H. Hamdan, M.Pd. dalam sambutannya menegaskan, bahwa pendidikan karakter adalah jantung dari pendidikan madrasah.
“Keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dengan seberapa tinggi nilai akademik yang diperoleh peserta didik. Kita tentu menginginkan lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, kuat secara moral, dan memiliki kepedulian sosial,” tegasnya.
Dekan menambahkan, bahwa kepala dan wakil kepala madrasah bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan pemimpin budaya dan karakter di lingkungan madrasah.
Acara dibuka secara resmi Rektor Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd., melalui Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian Dr. H. Zainal Ilmi, S.Ag., M.Pd.I.
Dalam arahannya, Karo mengingatkan para pendidik tentang pesatnya perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
“AI sebagai sekoci, bukan sebagai perahu. Tetap harus literasi. Karakter itu tidak bisa diunduh, karakter itu dari hati,” ujarnya.

Dr. Zainal menekankan enam nilai karakter penting, yaitu religius, integritas, moderat, kritis/mandiri, gotong royong, serta etika digital yang sangat krusial di era saat ini.
Turut hadir secara langsung Anggota Komisi VIII H. Sudian Noor, M.A.P., yang memberikan arahan sekaligus menyerap aspirasi para guru madrasah terkait fasilitas, status guru swasta, hingga infrastruktur sekolah. Dirinya menekankan filosofi kebersamaan melalui istilah “rasuk” (sinergi).
“Antara pimpinan, guru, dan pendidik, semua harus rasuk. Kalau tidak rasuk, tidak bisa,” tutur H. Sudian.

Lebih lanjut dirinya menekankan komitmen untuk mengawal suara para pendidik.
“Tolong manfaatkan saya, sampaikan aspirasi, insyaallah saya siap memperjuangkannya, tidak hanya di Kemenag tapi juga kementerian lain yang terkait,” jelas H. Sudian.

Seminar ini menghadirkan narasumber pakar pendidikan, Dr. Hilal Najmi, S.Ag., M.Pd.I., yang menyoroti transisi karakter dari ruang lingkup domestik hingga terwujud menjadi budaya madrasah.
“Pendidikan karakter bukan satu mata pelajaran atau kegiatan sesaat. Rutinitas yang dilakukan secara berulang akan menjadi kebiasaan, kebiasaan yang terus-menerus menjadi budaya, dan budaya itu akan menjadi karakter. Nasihat terbaik adalah teladan,” paparnya yang pernah sukses memimpin MAN Insan Cendekia di sejumlah daerah.
Dr. Hilal mencontohkan aplikasi nyata karakter seperti integritas kejujuran, kepedulian pada sampah lingkungan, hingga kesadaran ibadah salat berjamaah.
Sementara itu, Ketua Panitia Dr. Lutfiyanti Fitriah, M.Pd., menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.
“Alhamdulillah ini kegiatan yang ke-10 kami laksanakan. Kami senang peserta sangat antusias mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai untuk menambah pengetahuan. Harapannya ke depan, kegiatan ini bisa terus dilaksanakan dan semakin banyak daerah kabupaten dan kota yang menjadi lokasi pelaksanaan, sehingga manfaatnya semakin luas,” pungkasnya.
(Reporter/Fotografer: Jamal Ripani, M.Pd.)






