
Menjawab Tantangan Era Teknologi, FDIK UIN Antasari Dorong Dakwah Inklusif dan Berkelanjutan Lewat DIGIDA 2026
BANJARMASIN – Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri Antasari, sukses menyelenggarakan The International Seminar on Digital Literacy and Islamic Da’wah (DIGIDA) 2026, Rabu (7/10).
Mengusung tema yang sangat relevan dengan era modern, yaitu “Menapaki Masa Depan: Literasi Digital dan Dakwah Berkelanjutan untuk Kesejahteraan Global yang Inklusif”, kegiatan ini dilaksanakan secara hibrida yang terpusat di Auditorium Mastur Jahri Kampus 1, serta melalui daring.

Ketua Panitia Dr. Taufik Hidayat, S.Psi., Psikolog, M.Kes. dalam laporannya menyebutkan, bahwa ada 50 artikel yang akan dipresentasikan para peserta baik secara luring maupun daring. Dirinya juga menyoroti transformasi medium dakwah di era teknologi saat ini.
“Saat ini memang kita dihadapkan pada kemajuan teknologi digital yang tidak bisa kita hindari dan merubah semuanya, termasuk cara kita berdakwah. Untuk dakwah Islam, perkembangan ini menjadi peluang sekaligus tantangan,” ungkap Dr. Taufik.
“Oleh karena itu, literasi digital adalah satu solusi bagaimana kita bisa melakukan dakwah di zaman digital ini. Kita tidak hanya harus bisa beradaptasi dengan teknologi, tetapi kita juga harus membangun diri untuk berpikir kritis terhadap teknologi itu sendiri,” tambahnya.

Senada, Dekan Dr. Hj. Halimatus Sakdiah, S.Ag., M.Si. menekankan pentingnya kemampuan literasi, agar kegiatan dakwah terus berkelanjutan di tengah gempuran arus teknologi global.
“Pada kesempatan ini kami mengangkat tema tentang bagaimana literasi digital itu penting, dan bagaimana kelanjutan dakwah harus terus ditekankan pada era teknologi global ini. Kami menghadirkan tiga narasumber dengan keilmuan yang berbeda, untuk menggabungkan pengetahuan tersebut agar dakwah dapat terus berkelanjutan,” jelasnya.

Acara ini secara resmi dibuka Rektor Prof. Dr. Nida Mufidah, M.Pd., yang menyempatkan hadir menyapa para peserta secara virtual dari Jakarta. Dalam sambutan dan arahannya, Rektor memberikan pandangan yang mendalam mengenai tanggung jawab dan etika dakwah dalam ruang digital.
“Pertanyaannya saat ini, bagaimana kita bisa membuat dakwah digital menjadi lebih bermakna, lebih bertanggung jawab, lebih inklusif, dan lebih berkelanjutan? Literasi digital bukan hanya sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana membuat konten yang sarat dengan nilai-nilai Islam secara kritis dan bertanggung jawab,” tegas Prof. Nida.

Dirinya juga mengingatkan, bahwa institusi pendidikan Islam memiliki peran yang lebih besar daripada sekadar mencetak lulusan yang melek teknologi.
“Tetapi juga harus membentuk generasi yang berlandaskan etika, kritis secara intelektual, matang secara spiritual, dan bertanggung jawab secara sosial. Teknologi memungkinkan pesan dakwah menyebar dengan cepat menjangkau jutaan orang, sehingga ini menjadi sebuah peluang sekaligus tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.
Seminar internasional ini menghadirkan tiga pakar dari tiga negara yang berbeda untuk memberikan wawasan lintas disiplin. Hadir secara langsung sebagai narasumber adalah Prof. Ir. Anton Satria Prabuwono, M.Sc., Ph.D. dari Universiti Teknologi PETRONAS Malaysia.
Kemudian ada Dr. Rulli Nasrullah, M.Si. dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, Dr. Bibi Jan Md Ayyub, seorang pendidik, konselor, dan aktivis sosial sekaligus pendiri lembaga Club HEAL asal Singapura, turut bergabung membagikan ilmunya secara daring.
Melalui DIGIDA 2026, pihak FDIK berharap dapat terus memperkuat jaringan akademik dan profesional, serta berkontribusi nyata pada pengembangan dakwah Islam yang damai, inklusif, dan bermakna di era digital.
Reporter: Jamal Ripani, M.Pd.
Fotografer: Jamal Ripani, M.Pd. dan Haitami, S.Sos.I., M.M.




