
Tembus Forum Internasional, Mahasiswa UIN Antasari Dibekali Strategi Presentasi untuk BIAF 2026
BANJARMASIN — Universitas Islam Negeri Antasari secara resmi menggelar Pembekalan dan Pelepasan Kontingen Mahasiswa Peserta Borneo International Academic Forum (BIAF) 2026, di Aula Asywadie Syukur, Kampus 1, Senin (14/9).
Kegiatan ini dibuka langsung Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Dr. Irfan Noor, M.Hum. Dalam arahannya, Wakil Rektor menyampaikan, bahwa keikutsertaan mahasiswa sebagai presenter pada ajang global ini, merupakan pengalaman bernilai tinggi, sekaligus sebagai pembuktian kapasitas akademik.
“Tujuan dari kegiatan pembekalan ini agar kalian lebih siap secara mental, dan semoga fisik kalian juga selalu siap saat mempresentasikan hasil riset nanti,” ujar Dr. Irfan di hadapan para peserta.
Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga membeberkan kilas balik transformasi forum akademik regional Kalimantan ini. BIAF merupakan bentuk transformasi dari ajang Borneo Undergraduate Academic Forum (BUAF), yang sebelumnya terakhir kali dilaksanakan di UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, pada 17–19 September 2024.
Rencananya di 2025 akan dilaksanakan di IAIN Pontianak. Karena terkendala efisiensi anggaran dan kesiapan pelaksanaan saat itu, BUAF pun ditiadakan. Melalui diskusi yang panjang antar Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN/IAIN se-Kalimantan, akhirnya BUAF akan dilaksanakan di UIN Antasari Banjamasin di 2026.
Dalam pertemuan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, serta Direktur Pascasarjana UIN/IAIN se-Kalimantan tanggal 8 Juni 2026 di Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin, disepakati untuk mengembangkan Borneo Undergraduate Academic Forum (BUAF) menjadi Borneo International Academic Forum (BIAF), dengan pesertanya tidak lagi hanya mahasiswa S-1, tapi juga mahasiswa S-2 dan S-3.
“Dengan diperluasnya cakupan peserta ini, diharapkan memperkuat ekosistem akademik di lingkungan kampus UIN/IAIN di wilayah Kalimantan,” ungkap Dr. Irfan.
Dirinya pun menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan forum ilmiah mahasiswa di kawasan Kalimantan, agar wacana akademik terus berkembang.
“Di Jawa ada ajang Jawara, di Sulawesi ada Poros Maritim, begitu pun daerah lain. Kita harus mempertahankan forum akademik regional di Kalimantan, untuk mempererat silaturahmi serta meningkatkan kualitas karya ilmiah perguruan tinggi di wilayah ini,” tambah Wakil Rektor.
Dua Pemateri Berikan Pembekalan Teknik dan Subtansi
Untuk memantapkan kesiapan kontingen, panitia menghadirkan dua pemateri kawakan dalam sesi pembekalan. Husnul Athiya, M.A. seorang praktisi wicara publik, memberikan panduan praktis mengenai manajemen rasa gugup dan trik tampil percaya diri di panggung forum internasional.
Sementara itu, Wardatun Nadhiroh, M.Hum, Ph.D., alumnus University of Birmingham, Inggris, membedah strategi penyusunan materi presentasi riset.
Dirinya menekankan agar peserta menyampaikan ide penelitian secara lugas, sederhana, dan tepat sasaran, mengingat alokasi waktu presentasi yang terbatas yakni 10 menit dengan menggunakan bahasa Inggris.
Diikuti Peserta dari 6 Negara
Ketua Panitia Pelaksana, Hanafi, S.Th.I., M.A., mengungkapkan rasa optimistisnya atas terselenggaranya ajang internasional ini. Menurutnya, mengelola forum akademik lintas negara memberikan tantangan tersendiri bagi panitia.
“Hingga saat ini, BIAF 2026 dipastikan bakal diikuti oleh peserta dari enam negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Turki, Tunisia, Belanda, dan beberapa negara mitra lainnya,” ungkapnya.
Rangkaian ajang BIAF 2026 tersebut dijadwalkan berlangsung pada 17–19 September mendatang. Panitia berharap seluruh rangkaian acara dapat berjalan lancar serta memberikan kontribusi nyata bagi wacana akademik global.
Reporter: Haitami, S.Sos.I., M.M.
Fotografer: Rudy Hr, S.A.P. dan Haitami, S.Sos.I., M.M.



