
Pendidik Tanggap Pesisir: Komisi VIII DPR RI Bersama UIN Antasari Gelar NGOPI untuk Wujudkan Madrasah Aman Bencana di Aluh-Aluh
BANJAR – Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Islam serta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di wilayah pesisir dan perairan, Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia bersama Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, sukses menyelenggarakan kegiatan NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) dengan tema “Pendidik Tanggap Pesisir: Strategi Mewujudkan Satuan Pendidikan Aman Bencana”.
Kegiatan ini dilangsungkan di Aula Kantor Camat Aluh-Aluh, Jalan Inpres Desa Aluh-Aluh Besar, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, Ahad (04/10/2026).
Acara ini dihadiri Anggota Komisi VIII H. Sandi Fitrian Noor, S.T., M.M., serta jajaran pimpinan UIN Antasari, dengan Rektor Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd. diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Dr. Irfan Noor, M. Hum.
Turut hadir juga Wakil Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Dr. H. Hairul Hudaya, M.Ag., serta Kepala Bagian Tata Usaha FTK sekaligus Koordinator Divisi Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Rahimah, S.Ag.
Selain itu, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjar diwakili oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Muhammad Yusuf, S.Ag, M.Pd. Adapun para peserta terdiri dari dewan guru dan juga pemerhati pendidikan.
Dalam pemaparan materi seminar, menyoroti bahwa madrasah dan satuan pendidikan di kawasan pesisir Kabupaten Banjar, memiliki karakteristik geografis khusus serta dikelilingi oleh berbagai potensi risiko lingkungan, seperti rentan terhadap ancaman air pasang/genangan, angin kencang/puting beliung, abrasi, kebakaran permukiman, kabut asap, serta kendala akses jalan dan transportasi.
“Oleh karena itu, peran pedagogis guru sangat krusial dalam membangun kesadaran ekologis peserta didik,” ungkap pemateri.
Pendidikan kebencanaan di madrasah pesisir, tidak hanya berfokus pada saat bencana terjadi, melainkan mencakup tiga fase utama dalam kerangka SPAB (Satuan Pendidikan Aman Bencana). Pertama adalah Pra-Bencana, yaitu identifikasi risiko, penyusunan rencana, latihan simulasi, dan penyiapan perlengkapan (seperti peta risiko banjir dan jalur evakuasi).
Saat Darurat, yaitu respons cepat, tenang, dan tertib sesuai prosedur evakuasi menuju titik kumpul yang aman. Pascabencana, yaitu pemulihan kondisi, perbaikan fasilitas fisik, dukungan psikososial, serta keberlanjutan proses pembelajaran.
Seminar ini juga menekankan pentingnya pendekatan holistik melalui penggabungan pengalaman lokal, sains, dan nilai-nilai moral, agar anak-anak memahami lingkungan tempat tinggalnya secara utuh.
Paradigma ekoteologi dan pendidikan lingkungan menuntun peserta didik untuk tumbuh dari pemahaman “alam di luar saya” menjadi kesadaran “saya hidup di dalamnya, bergantung padanya, memengaruhinya, dan bertanggung jawab terhadapnya”.
“Melalui kegiatan NGOPI ini, diharapkan para pendidik di Kecamatan Aluh-Aluh semakin siap dan sigap mentransformasikan pengetahuan mitigasi bencana ke dalam ruang kelas, sehingga terwujud generasi sadar risiko serta satuan pendidikan yang aman, tangguh, dan berkelanjutan,” pungkas panitia.
Penulis/Fotografer: Tim FTK
Penyunting: Pusat Humas dan Keterbukaan Informasi






