
Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf al-Makassari: Jejak Ulama, Pejuang, dan Jaringan Sufi Lintas Samudra
BANJARMASIN – Universitas Islam Negeri Antasari menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “Shaykh Yusuf al-Maqassari and The Sufi Networks of the Malay World and Africa”, dalam rangka memperingati 400 tahun Syekh Yusuf al-Makassari pada Kamis (22/10/2026).
Kegiatan ini digelar secara daring, dan dipusatkan di Laboratorium Komputer Unit Teknologi Informasi dan Pangkalan Data Kampus 1 UIN Antasari.

Forum akademik lintas negara tersebut disambut antusias peserta dari berbagai daerah maupun mancanegara yang memadati ruang Zoom Meeting, serta mengikuti jalannya acara melalui aliran langsung di kanal YouTube UIN Antasari.
Turut hadir dalam kegiatan ini jajaran pimpinan perguruan tinggi mitra nasional dan internasional, di antaranya dari Universiti Malaysia Sabah, Universiti Sultan Zainal Abidin Malaysia, Universiti Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam, serta Prince of Songkla University Thailand.
Rektor UIN Antasari Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd. saat membuka acara secara resmi menegaskan, bahwa peringatan empat abad Syekh Yusuf al-Makassari bukan sekadar kilas balik sejarah, melainkan momentum penting untuk menggali kembali pemikiran, perjuangan, dan nilai keteladanan ulama besar Nusantara tersebut agar tetap relevan bagi masyarakat masa kini.
“Syekh Yusuf al-Makassari bukan hanya dikenal sebagai seorang ulama dan mursyid sufi, tetapi juga sosok yang menunjukkan keteguhan iman, keluasan ilmu, keberanian, serta komitmen mendalam terhadap nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Rektor dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Prof. Nida berharap forum internasional ini menjadi titik awal penguatan kolaborasi riset, dan pertukaran keilmuan antarperguruan tinggi yang berdampak luas bagi peradaban.
“Saya mengajak seluruh akademisi, peneliti, perguruan tinggi, dan lembaga keilmuan yang hadir dalam forum ini, untuk memperkuat jejaring kolaborasi lintas institusi dan bangsa. Kita harus memastikan pertemuan hari ini melahirkan langkah terukur, tujuan yang jelas, dan program bersama yang berkelanjutan,” tuturnya sebelum menutup sambutan.
Kupas Tuntas Warisan Keilmuan, Spiritualitas, dan Perjuangan Lintas Samudra
Seminar yang dipandu oleh pembawa acara Husnul Athiya, M.A. dan dimoderatori oleh Yokke Andini, M.Pd., pada sesi pertama ini menghadirkan enam narasumber dari dalam dan luar negeri.
Keenam pakar tersebut meliputi Dr. Azhar Ibrahim, M.A. (National University of Singapore/NUS), Dra. Hj. Muzdalifah Sahib, M.Hum., Ph.D. (UIN Alauddin Makassar), Prof. Dr. Zulkifli, M.A. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M.A. (UIN Antasari Banjarmasin), Prof. Dr. Auwais Rafudeen, M.A. (University of South Africa), serta Dr. Muhammad Iqbal, M.S.I. (UIN Antasari Banjarmasin).

Narasumber pertama, Dr. Azhar dari Departemen Pengkajian Melayu NUS, memaparkan materi berjudul “Syeikh Yusuf al-Makassari: Noblesse Oblige Across the Ocean”. Dirinya membedah kiprah Syekh Yusuf melalui konsep noblesse oblige, yakni kemuliaan jiwa dan keilmuan yang menuntut tanggung jawab moral, keberanian bertindak, pengabdian sosial, serta keteguhan membela keadilan.
Menurut Dr. Azhar, meski hidup pada abad ke-17 yang penuh keterbatasan transportasi laut, Syekh Yusuf mampu menempuh pengembaraan intelektual dan perjuangan lintas samudra mulai dari Gowa Makassar, Banten, Aceh, Ceylon (Sri Lanka), Makkah, Madinah, Yaman, Suriah, hingga Afrika Selatan, sembari melahirkan sekitar 23 karya tulis yang mayoritas berbahasa Arab.
“Ulama bukan hanya seorang penjaga agama, tetapi juga sosok yang melahirkan karya-karya tulis untuk diwariskan kepada para muridnya. Ke mana pun Syekh Yusuf pergi, ia membangun komunitas yang pada akhirnya menjadi penjaga, penyelamat, dan pencipta ilmu pengetahuan,” ungkap Dr. Azhar.

Dirinya juga menyoroti ajaran tasawuf Syekh Yusuf yang menekankan keterpaduan antara syariat dan hakikat serta keberpihakan kepada kaum lemah, sebagaimana ungkapan sang ulama bahwa barangsiapa mendalami fikih dan menjalankan tasawuf secara beriringan, maka ia telah menemukan hakikat.
Selanjutnya, Prof. Zulkifli menyajikan materi bertajuk “Sufi and Warrior in the Malay World: The Contributions of Abdussamad al-Palimbani (1737–1832)”. Dirinya menjelaskan bahwa jejak perjuangan Syekh Yusuf al-Makassari yang memimpin perlawanan terhadap Belanda (VOC) di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa selama dua tahun hingga diasingkan ke Cirebon, Batavia, Sri Lanka, dan Afrika Selatan, memiliki benang merah yang kuat dengan kiprah ulama sufi Nusantara pada abad berikutnya, yakni Syekh Abdussamad al-Palimbani.
Prof. Zulkifli memaparkan, bahwa Syekh Abdussamad merumuskan konsep jihad melawan penjajah secara komprehensif melalui kitab Nasihat al-Muslimin wa Tadzkirat al-Mu’minin fi Fadl al-Mujahidin wa Karamat al-Mujahidin fi Sabil Allah Rabb al-’Alamin.
Kitab dan jaringan Tarekat Sammaniyyah yang disebarkannya tidak hanya menginspirasi lahirnya Hikayat Prang Sabi di Aceh, pengiriman surat seruan jihad kepada penguasa Mataram di Jawa pada 1772, serta heroisme Perang Menteng (1819) di Palembang, tetapi juga mendorong Syekh Abdussamad terjun langsung ke medan perang di Kedah dan Patani (Thailand Selatan) hingga gugur sebagai syuhada pada tahun 1832.
“Syekh Abdussamad al-Palimbani adalah seorang sufi sekaligus pejuang, baik dalam pemikiran maupun tindakan nyata, yang memberikan pengaruh besar terhadap perjuangan umat Islam melawan penjajah di Asia Tenggara, mulai dari Palembang, Jawa, Aceh, hingga Thailand Selatan,” papar Prof. Zulkifli.
Keseimbangan Syariat-Hakikat dan Keberlanjutan Jaringan Sufi hingga Afrika Selatan
Dari sudut pandang kajian teks tasawuf, Prof. Mujiburrahman membedah risalah karya Syekh Yusuf yang berjudul Qurrat al-‘Ain allatī Kānat li al-Insān ka al-‘Ainain. Dirinya menerangkan bahwa karya tersebut merepresentasikan corak tasawuf ortodoks Nusantara yang menolak paham panteisme (wahdatul wujud mulhid) maupun inkarnasi (hulul), seraya menegakkan keseimbangan antara transendensi (tanzih) dan imanensi (tasybih) Tuhan.
“Syariat adalah wujud lahiriah dari hakikat, sedangkan hakikat adalah makna batiniah dari syariat. Perpaduan keduanya merupakan jalan yang lurus, yang salah satu sayapnya adalah syariat dan sayap lainnya adalah hakikat, bagaikan sepasang mata pada manusia,” jelas Prof. Mujib.

Dirinya menambahkan, pandangan Syekh Yusuf mengenai penolakan terhadap paham wujudiyyah mulhid serta pentingnya ketegasan penguasa (sultan) dalam menjaga kemurnian akidah, memiliki keselarasan dengan pemikiran ulama besar Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Selain itu, Syekh Yusuf memandang hubungan agama dan negara ibarat dua saudara yang saling menguatkan.
Dalam refleksi akhirnya, Prof. Mujib menekankan, bahwa warisan tasawuf ini sangat relevan untuk menjawab krisis lingkungan hidup melalui penghormatan terhadap kesucian alam, sekaligus mengingatkan tanggung jawab kaum intelektual untuk menyuarakan kebenaran kepada pemegang kekuasaan.
Sementara itu, Muzdalifah, Ph.D.—yang meraih gelar doktor dari University of South Africa (Unisa) pada 2019 melalui disertasi mengenai kontribusi literer Syekh Yusuf—menguraikan topik “Shaykh Yusuf al-Maqassarī dalam Jaringan Sufi Dunia Melayu dan Afrika”.
Dirinya memaparkan bahwa Syekh Yusuf (1626–1699 M) yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional baik di Indonesia maupun di Afrika Selatan, tercatat berguru kepada empat ulama lokal dan sekitar 15 ulama internasional dari Sulawesi Selatan, India, Yaman, Makkah, Madinah, hingga Damaskus.
Dari pengembaraan itu, Syekh Yusuf mempelajari 18 tarekat dan mengantongi lima ijazah utama, yakni Qadiriyyah, Naqsyabandiyyah, Ba ‘Alawiyyah, Syattariyyah, dan Khalwatiyyah, serta meninggalkan sekitar 57 naskah yang sebagian besar kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
“Pengasingan memindahkan tubuh seorang ulama, tetapi tidak memutus ilmu dan jaringan yang dibawanya. Pengasingan justru memindahkan jaringan sufi tersebut ke ruang yang baru, dari dunia Melayu hingga membentuk komunitas dan identitas Muslim di Cape Town, Afrika Selatan,” terang Muzdalifah, Ph.D.

Dirinya juga mengungkapkan bahwa jaringan Tarekat Khalwatiyyah Yusufiyyah terus bertahan melintasi generasi hingga era kontemporer, salah satunya melalui peran keturunan Syekh Yusuf, yakni Syekh K.H. Sahib Sultan, yang membaiat Imam Adam Philander di Gowa (2012), serta Muhammad Yusuf Philander di Cape Town (2014) sebagai khalifah tarekat tersebut di Afrika Selatan.
Diskusi mengenai jejak keislaman di Afrika Selatan dan khazanah intelektual Nusantara ini semakin lengkap dengan keterlibatan Prof. Rafudeen, Associate Professor sekaligus Ketua Departemen Studi Agama dan Bahasa Arab pada UNISA, Pretoria, bersama Dr. Iqbal.
Prof. Rafudeen dikenal luas sebagai peneliti sejarah Muslim Afrika Selatan, yang bersama Prof. Yousuf Dadoo menyunting buku rujukan internasional berjudul Spiritual Path, Spiritual Reality: Selected Writings of Shaykh Yusuf of Macassar.
(Reporter/Fotografer: Jamal Ripani, M.Pd.)



