
Harumkan Nama UIN Antasari, Dr. Ahmad Syawqi Raih Peringkat 1 Artikel Terbaik Nasional di Rakernas IPI 2026
SEMARANG — Prestasi membanggakan di kancah nasional kembali diraih oleh civitas academica Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Pustakawan UIN Antasari, Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag., S.IPI., M.Pd.I., sukses meraih predikat Artikel Terbaik 1 pada sesi Call for Papers dan Call for Best Practices, dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Tahun 2026.
Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan secara langsung pada hari kedua pelaksanaan Rakernas, yang bertempat di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (7/10). Dr. Syawqi berhasil memuncaki penilaian dewan juri dengan perolehan nilai 81,33, mengungguli nominator dari berbagai perguruan tinggi dan institusi lainnya se-Indonesia.
Dalam ajang tingkat nasional yang mengusung tema “Pustakawan Terlibat, Bersinergi, dan Berdampak” tersebut, Dr. Syawqi mempresentasikan karya ilmiahnya yang berjudul “Sinergi Pustakawan-Media Massa: Menulis Opini untuk Memperluas Dampak Gerakan Literasi di Kalimantan Selatan“.
Karya ini mendokumentasikan rekam jejak serta praktik baik portofolionya sebagai kurator informasi, dalam mempublikasikan berbagai tulisan opini di sejumlah surat kabar lokal, media elektronik, hingga jurnal ilmiah sepanjang periode 2021–2026.
Dalam paparannya, Dr. Syawqi menegaskan pentingnya peran eksternal pustakawan di era informasi modern.
“Peran pustakawan kini berkembang dari penjaga buku menjadi kurator. Pesan literasi sering hanya tersampaikan di dalam perpustakaan, padahal media massa punya potensi strategis menjangkau publik yang lebih luas,” ungkapnya.
Dr. Syawqi juga menyoroti masih minimnya pustakawan yang aktif menulis di ruang-ruang publik. Padahal, menurutnya, menulis opini dapat berfungsi sebagai sarana amplifikasi literasi di luar dinding fisik perpustakaan, mengukuhkan reputasi pustakawan sebagai pemikir kritis, sekaligus mengadvokasi kebijakan untuk mendorong program literasi daerah.
“Sinergi pustakawan dan media massa terbukti efektif memperluas jangkauan gerakan literasi dan memperkuat kepercayaan masyarakat,” tambahnya menyimpulkan temuan portofolionya.
Capaian membanggakan perwakilan UIN Antasari ini sejalan dengan dorongan kuat dari Ketua Umum Pengurus Pusat IPI, Dr. Joko Santoso, M.Hum. Menurutnya, apresiasi dalam ajang Rakernas IPI merupakan bentuk rekognisi tertinggi terhadap dedikasi para pustakawan, yang selama ini melakukan “kerja sunyi” untuk mencerdaskan masyarakat.
“Kita ingin semakin banyak pustakawan menulis, meneliti, membagikan praktik baik, dan membangun pembaruan layanan berdasarkan bukti,” tegas Dr. Joko.
Dirinya berharap agar gagasan dan inovasi yang lahir dari para pustakawan penulis tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi, melainkan mampu menjadi pembelajaran inspiratif bagi perpustakaan dan masyarakat di daerah lain.
Rakernas IPI 2026 diselenggarakan sejak Selasa hingga Kamis (6–8 Oktober) dan diikuti ratusan pengelola perpustakaan, pengurus daerah, dan pegiat literasi nusantara.
Selain melahirkan karya-karya terbaik, Rakernas ini juga menelurkan lima agenda transformasi besar, di antaranya adalah penguatan ekosistem pengetahuan profesi dan kompetensi pustakawan dalam merespons era kecerdasan buatan (AI).
(Fur/Faj)



