
Pakar Lintas Negara Kumpul di UIN Antasari, Bedah Tren “Agama Generatif” dan Masa Depan Dakwah
BANJARMASIN — Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri Antasari, sukses menyelenggarakan The International Seminar on Digital Literacy and Islamic Da’wah (DIGIDA) 2026, di Auditorium Mastur Jahri, Kampus 1, Rabu (7/10).
Seminar internasional ini menghadirkan para pakar lintas negara untuk mengulas literasi digital, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), penanganan krisis kecanduan digital dalam peradaban modern, hingga kaitannya dengan dakwah Islam.
Seminar yang dipandu oleh moderator Dr. Zainal Pikri, M.Ag., M.A. ini, menghadirkan dua narasumber secara langsung di lokasi, yaitu Prof. Ir. Anton Satria Prabuwono, M.Sc., Ph.D. dari Universiti Teknologi PETRONAS Malaysia, dan Dr. Rulli Nasrullah, M.Si. dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta satu narasumber yang bergabung secara daring, Dr. Bibi Jan Md Md Ayyub dari Singapura.
Dalam sesi pertama, Prof. Anton memaparkan materi bertajuk “Bebas dari Disinformasi: Pengembangan Platform Digital yang Ramah Pengguna”. Dirinya membedah peran AI, data raya, komputasi awan, dan keamanan siber dalam memetakan perilaku pengguna digital untuk kepentingan dakwah. Namun, Prof. Anton memberi catatan kritis terkait maraknya distorsi informasi di ruang siber.
“Lebih dari 4,9 juta pengguna internet di seluruh dunia mengakses konten agama, tetapi kurang dari 12 persen platform dakwah yang menggunakan mekanisme verifikasi fakta secara sistematis. Kebanyakan hanya menerjemahkan konten tanpa verifikasi,” ungkapnya.

Prof. Anton menambahkan, bahwa algoritma AI dapat bekerja secara otonom tanpa intervensi manusia, yang berisiko memicu provokasi, ujaran kebencian, hingga polarisasi publik jika tidak diimbangi dengan literasi digital yang kuat.
Sementara itu, Dr. Rulli mengupas lima bentuk persentuhan Islam dan teknologi, mulai dari teknologi sebagai sarana komunikasi, agama secara daring, agama daring, agama sebagai medium, hingga era agama generatif. Menurutnya, institusi pendidikan dakwah harus beradaptasi dengan lompatan teknologi ini.
“Sekarang kita masuk ke level agama generatif dan era agen AI. AI bukan lagi entitas yang menakutkan, melainkan peluang ekosistem yang luar biasa. Bahkan silabus, Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) pengajaran dakwah, sudah harus berhadapan dengan masa depan ini,” jelas Dr. Rulli.

Pada kesempatan tersebut, dirinya juga memperkenalkan contoh aplikasi berbasis agen AI, dakwahmu.lovable.app, yang Dr. Rulli kembangkan untuk memfasilitasi akses pengetahuan Islam dan tafsir secara ringkas.
Dari perspektif kesejahteraan mental dan kesehatan sosial, Dr. Bibi—seorang pendidik, konselor, dan aktivis sosial asal Singapura sekaligus pendiri lembaga Club HEAL—menyoroti dampak kecanduan digital terhadap generasi muda.
“Satu dari tiga pengguna internet di dunia adalah anak-anak. Ketagihan digital ini dapat mengganggu fungsi kehidupan, perkembangan jasmani, hingga psikologis mereka. Namun, jangan salahkan gawai-nya; yang paling penting adalah kualitas hubungan intim antara orang tua dan anak, serta pemanfaatan media digital untuk tujuan dakwah,” tutur Dr. Bibi.

Dirinya menyarankan pendekatan model CARE (Connect, Assessment, Reframing, Empower)/koneksi, penilaian, pembingkaian ulang, dan pemberdayaan, dalam menangani kasus kecanduan siber, serta menegaskan bahwa tugas dakwah adalah kewajiban bersama seluruh elemen masyarakat.
Rangkaian acara berlangsung interaktif dan memantik antusiasme peserta. Tiga peserta beruntung mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dan mengajukan pertanyaan secara langsung kepada para narasumber pada sesi diskusi.
Reporter: Jamal Ripani, M.Pd.
Fotografer: Jamal Ripani, M.Pd. dan Haitami, S.Sos.I., M.M.





