
Cegah Kenakalan Remaja Berujung Petaka, Ratusan Guru Madrasah Berkumpul Rumuskan Sekolah Ramah Anak di Martapura
BANJAR — Bayangkan seorang remaja yang sedang mencari jati diri, mendadak terjebak dalam tekanan pergaulan teman sebaya untuk merokok atau bahkan membuktikan “cinta” lewat hubungan fisik di luar batas.
Di saat mereka merasa bingung dan butuh pelindung, mereka justru seringkali mendapati orang dewasa di sekitarnya hanya bisa menghakimi tanpa mau memahami. Bermula dari rasa kecewa yang mendalam inilah, benih-benih kenakalan remaja seringkali tumbuh dan mekar.
Realitas sosial yang mengkhawatirkan itulah, yang membawa ratusan pahlawan tanpa tanda jasa memadati Aula Kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Banjar di Martapura, Selasa (29/09/2026).

Mereka hadir dalam suasana yang sangat antusias untuk mengikuti seminar “Ngopi” (Ngobrol Pendidikan Islam). Acara ini mengusung tema “Penguatan Mutu Pendidikan Berbasis Karakter dan Nilai-Nilai Keislaman dalam Mewujudkan Sekolah Ramah Remaja”.
Kegiatan ini merupakan buah kolaborasi apik antara Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, dan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan Dr. Muhdi, M.Ag., yang hadir mewakili Rektor Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd., menyoroti akar masalah dari krisis moral anak muda saat ini.
“Kenakalan remaja itu bermula dari rasa kecewa mereka terhadap orang-orang dewasa. Maka bagaimana ini dapat diantisipasi, sehingga mereka menjadi remaja yang terdidik,” tegas Wakil Rektor.

Menurutnya, nilai-nilai Islam dengan pendekatan baru sangat diperlukan untuk memberikan asupan gizi karakter, agar sekolah ramah remaja benar-benar terwujud, dan para siswa bisa menjadi penerus estafet keberlangsungan bangsa.
Membuka acara tersebut, Anggota Komisi VIII H. Sandi Fitrian Noor, S.T., M.M. sepakat, bahwa di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, remaja sangat rentan terhadap perundungan dan tekanan mental. Oleh karena itu tegasnya, menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif adalah sebuah harga mati.
“Konsep ramah remaja tidak akan paripurna jika tidak berakar pada karakter dan nilai-nilai keislaman. Pendidikan berbasis karakter Islam menjamin, bahwa remaja kita dirangkul dengan pendekatan bimbingan, bukan tekanan; diajar dengan keteladanan, bukan sekadar instruksi,” papar H. Sandi.

Dari sudut pandang psikologi, Dosen Fakultas Kesehatan Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari, Dr. Nurul Indah Qariati, S.K.M., M.Kes., membedah bagaimana remaja sering terjerumus akibat rasa ingin diakui dan takut kehilangan pacar, hingga berujung pada kehamilan tidak diinginkan.
Dirinya pun membagikan resep jitu, agar guru tidak terlambat dalam menyelamatkan siswanya.
“Guru hebat bukan hanya mengajar di depan kelas, tapi hadir di dunianya; mendengar, memahami, mengarahkan, dan membantu mereka menemukan dirinya,” ungkap Dr. Nurul.

Dirinya juga mendorong para guru untuk menjadi “Sahabat Remaja” yang luwes, tidak menghakimi, dan membantu anak membangun batasan diri yang tegas, baik di dunia nyata maupun maya.
Langkah nyata untuk membenahi mutu pendidikan ini dikawal serius oleh pihak panitia dan pemangku kebijakan. Ketua Pelaksana Kegiatan, Mahmudah, M.Pd.I. menjelaskan, bahwa program yang disponsori negara ini sengaja mengumpulkan berbagai elemen.
“Kepada guru, kepada tokoh masyarakat, kepada praktisi pendidikan, mari bersama kita tingkatkan mutu pendidikan Islam di Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan,” ajaknya penuh semangat.

Dukungan masif dari daerah pun terlihat dari jumlah partisipan. Mewakili Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Banjar, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Muhammad Yusuf, S.Ag., M.Pd. merinci, bahwa pihaknya mengirimkan pasukan pendidik dalam jumlah besar.
“Alhamdulillah, dari Kantor Kemenag men-support dengan menghadirkan ratusan guru, terdiri dari perwakilan madrasah ibtidaiah, madrasah tsanawiah, dan madrasah aliah,” jelasnya.
Bagi para peserta, wadah diskusi seperti ini ibarat angin segar. Jiabus Sarury, S.Pd., M.A., seorang guru dari MAN 4 Banjar, mengaku sangat terbantu.
“Kegiatan-kegiatan seperti ini sangat positif, dan juga merupakan kegiatan bermanfaat bagi kami, khususnya guru madrasah untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam ke depannya,” tuturnya.
Sarury pun berharap kolaborasi lintas sektor ini terus terjalin, agar para guru memiliki ruang untuk menyuarakan aspirasi demi perbaikan sistem pendidikan Islam di lapangan.
(Reporter/Fotografer: Rudy Hr., S.A.P.)



