
Tingkatkan Kualitas Riset Berdampak bagi Masyarakat, UIN Antasari Gelar Workshop Metodologi Penelitian di Era Digital
BANJARMASIN – Sebagai bukti nyata komitmen perguruan tinggi untuk semakin berdampak bagi kemaslahatan masyarakat dan lingkungan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Antasari sukses menyelenggarakan lokakarya peningkatan kapasitas peneliti.
Kegiatan penting yang mengusung tema “Penguatan Teori, Metodologi, dan Novelti Penelitian Dosen di Era Transformasi Digital: From Research Gap to Research Contribution” ini, digelar Rabu (23/9/2026).
Acara yang berlangsung sejak pagi hingga sore ini diselenggarakan di Aula Zafry Zamzam, lantai 3 Gedung Rektorat Kampus I.
Rektor Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd. yang membuka kegiatan secara resmi, memberikan arahan yang sangat mendalam dan komprehensif bagi para akademisi.
Dalam sambutannya Rektor menekankan, bahwa kegiatan pemantik semangat seperti ini perlu dirutinkan setiap semester, untuk menjaga keberlangsungan atmosfer akademik dan budaya penelitian di kampus.
Dirinya secara khusus menyoroti tantangan di era “tsunami informasi”, sehingga kelimpahan data dengan bantuan transformasi digital harus bisa dimanfaatkan dosen untuk menemukan permasalahan (research gap) yang tajam.
“Kita ingin penelitian bermutu tidak hanya dimulai dari ketajaman membaca realitas di lapangan, tetapi kita juga ingin menghadirkan kebaruan,” tegas Prof. Nida.
Dirinya menjabarkan, bahwa esensi penelitian bukan sekadar memproduksi tumpukan kertas, melainkan memproduksi pengetahuan baru yang berujung pada kontribusi nyata. Hal ini tekan Rektor, sejalan dengan salah satu visi UIN Antasari, yakni untuk selalu berdampak bagi kemanusiaan dan lingkungan.
Dirinya juga mendorong perubahan pola pikir para dosen, agar bertransformasi dari sekadar penikmat ilmu, menjadi penghasil karya nyata.
“Kita ingin bagaimana pengetahuan itu menjadikan kita sebagai produser penelitian, dan kita ingin tidak hanya menjadi pembaca karya orang lain, tetapi juga bisa selalu hadir di ruang akademis dan menghasilkan karya-karya kita sendiri,” ajak Prof. Nida.
Dirinya turut mengingatkan, bahwa infrastruktur fisik kampus yang sudah memadai, harus diimbangi dengan peningkatan infrastruktur intelektual yang berpijak teguh pada moral dan integritas akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kain sasirangan dibuat ria, warisan budaya indah menawan, mari bersinergi ciptakan karya, beri kontribusi bagi kemajuan,” pesan Rektor lewat pantun.
Saking pentingnya wawasan yang dibagikan dalam lokakarya ini, dirinya bahkan memilih tetap bertahan di lokasi acara, untuk menyimak seluruh pemaparan materi dari narasumber hingga selesai.
Sebelumnya, Ketua LP2M Dr. H. Hasni Noor, M.Ag. dalam laporannya membagikan kabar membanggakan, bahwa pada tahun ini terdapat salah satu dosen UIN Antasari yang berhasil mendapatkan pendanaan riset tingkat nasional dari hibah MoRA The AIR (Ministry of Religious Affairs-Advances in Indonesian Religion and Society) Funds. Capaian ini diharapkannya menjadi pemacu semangat bagi peneliti yang lain.
Ketua LP2M pun memotivasi para dosen untuk mengangkat isu-isu kearifan lokal yang mampu memberi solusi bagi masyarakat, seperti riset inovasi mesin cangkang kalambuai (keong emas) yang sangat berdampak pada kesejahteraan peternak bebek lokal.
“Saya yakin di tempat ini banyak dosen-dosen yang berhimmah atau berkeinginan untuk meneliti itu lumayan tinggi,” ujarnya.
Drinya juga menambahkan, bahwa antusiasme dosen sangat tinggi; terbukti dari 50 kuota peserta luring dari perwakilan seluruh fakultas sudah terisi penuh, sehingga panitia harus membuka akses daring yang pesertanya tidak dibatasi, demi memfasilitasi minat riset dosen yang melonjak.
Guna memberikan pencerahan terbaik, LP2M menghadirkan pakar metodologi sekaligus mitra bestari program bantuan penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat (Litapdimas), dan MoRA The Air Funds, Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H.I. dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Dalam materinya, Prof. Naim memotivasi UIN Antasari untuk mengirimkan minimal 10 proposal hibah ke Kementerian Agama pada tahun depan. Dirinya pun membagikan rahasia utama kelolosan proposal riset nasional yang tidak boleh diremehkan.
“Jangan sampai Bapak/Ibu bikin proposal, research gap-nya bagus tapi enggak membaca juklak-juknis (petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis). Itu nomor satu yang harus dibaca,” pesan Prof. Naim mengingatkan, bahwa proposal sering kali gugur di tahap administrasi akibat mengabaikan aturan.
Dirinya juga membedah strategi pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu agar riset semakin berbobot dan aplikatif. Untuk menembus pendanaan bergengsi seperti MoRA, riset tidak bisa lagi bersifat monodisiplin, melainkan harus melibatkan kolaborasi teknologi melalui Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT), yang mampu mengukur dampak riset di masyarakat.
Lebih lanjut, Prof. Naim menyarankan setiap dosen untuk menyusun peta jalan penelitian personal untuk lima tahun ke depan, agar riset lebih terarah dan mendalam, alih-alih berganti topik setiap tahunnya.
Antusiasme peserta pun tampak sangat luar biasa, melalui banyaknya pertanyaan kritis yang diajukan.
(Reporter/Fotografer: Jamal Ripani, M.Pd.)






